Rabu, 20 Februari 2013 - 04:02:13 WITA

Penggunaan Metode Group Investigation (Gi) Dalam Pembelajaran Kooperatif Guna Meningkatkan Hasil Belajar Dasar Kompetensi Kejuruan Menggunakan Alat-Alat Ukur Siswa Kelas X TAB SMK Negeri 2 Bitung

 

Penulis : Nelsen Pelealu

NIM : 08 310 606


Dibawah Bimbingan

1. Dr. Ing .P.T.D. Rompas, MT

2. Davidsen Mapaliey.,ST.,M.Eng)

Rendahnya hasil dan minat belajar siswa, merupakan masalah dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Penggunaan model pembelajaran dan metode pembelajaran merupakan faktor utama dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas X Teknik Alat Berat.

Dalam mengatasi hal tersebut, peneliti menggunakan Metode Group Investigation (Gi)dengan tujuan mengetahui peningkatkan hasil belajar siswa. Metode Group Investigation (Gi) dapat membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah.. Peningkatan hasil belajar siswa  dapat dilihat dari capaian kemampuan

1.   Hasil  belajar  ranah  kognitif,  ketuntasan  belajar siswa pada  awal  pra  siklus  sebesar 37,04%, pasca siklus I sebesar 66,67%, dan pasca siklus II sebesar 92,59%.

2.  Hasil  belajar  ranah  afektif,  dari  observasi  pada  pra  siklus  sebesar  54,322%,  pasca siklus I sebesar 66,789%, dan pasca siklus II sebesar 78,271%.

3.    Hasil  belajar  ranah  psikomotor,  dari  observasi  pra  siklus  sebesar  44,84%,  pasca siklus I sebesar 63,09%, dan pasca siklus II sebesar 79,69%.

4.  Hasil observasi performance guru, pra siklus sebesar 40,6%, siklus I sebesar 77,78%, dan siklus II sebesar 96,8%.

Kata kunci : Penggunaan Metode Group Investigationdan hasil belajar

PENDAHULUAN

Pendidikan sebagai proses belajar mengajar bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri siswa secara optimal baik kognitif,afektif maupun psikomotorik. Salah satu masalah pengajaran di sekolah-sekolah adalah banyaknyasiswa yang memperoleh hasil belajar yang rendah. Masalah proses belajar mengajar pada umumnya terjadi di kelas, kelas dalam hal ini berarti segala kegiatan yang dilakukan guru dan anak didiknya di dalam suatu ruangan dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pembelajaran di kelas mencakup interaksi guru dan siswa, teknik dan strategi belajar mengajar, dan implementasi kurikulum serta evaluasinya (Kasbolah, 2001: 1)

Model pembelajaran yang efektif dapat    digunakan guru untuk mentransfer  ilmu  dengan  baik  dan  benar,  baik  secara  langsung  maupun  tidak langsung.

Pemilihan  model  pembelajaran  haruslah  sesuai  dengan tujuan  pembelajaran  yang  dirumuskan.  

Menurut hasil observasi kelas dan keterangan guru dasar kompetensi kejuruan menggunakan alat-alat ukur kelas X TAB di SMK Negeri 2 Bitung tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan bahwa kelas tersebut terdiri dari siswa yang heterogen berdasarkan hasil belajar, budaya dan tingkat sosial ekonominya. Proses pembelajaran yang berlangsung cenderung menggunakan metode yang masih konvensional (metode ceramah), sehingga siswa tidak dapat mengembangkan kemampuan awal yang dimilikinya dan membuat siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran. Karena dalam metode pembelajaran tersebut, siswa cenderung pasif dalam proses belajar mengajar. Akibatnya berpengaruh terhadap hasil belajar. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka diperlukan metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kekuatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Pemilihan metode pembelajaran tersebut di harapkan dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu.

Model pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group Investigation merupakan salah satu model pembelajaran yang mana guru dan siswa bekerja sama membangun pembelajaran. Siswa harus aktif dalam beberapa aspek selama proses belajar mengajar berlangsung, sedangkan fungsi kelompok sebagai sarana berinteraksi dalam membentuk suatu konsep belajar. Metode ini memiliki 6 tahapan belajar,yaitu : (1) mengidentifikasi topik dan pembentukan kelompok (guru sebagai fasilitator) ; (2) merencanakan tugas belajar; (3) menjalankan investigasi (anggota kelompok secara individu atau berpasangan berusaha untuk mengumpulkan informasi, menganalisa dan mengevaluasi serta menarik kesimpulan); (4) menyiapkan laporan akhir (laporan berasal dari investigasi yang telah dilakukan, guru berperan sebagai penasehat untuk membantu memastikan setiap anggota kelompok berperan aktif; (6) evaluasi, pada tahap ini setiap kelompok berhak untuk mengevaluasi kinerja dan hasil kerja kelompok yang mempresentasikan hasil diskusinya.

KAJIAN PUSTAKA

Metode Group Investigation (GI)

Dasar-dasar  model  Group  Investigation  dirancang  oleh  Herbert  Thelen, selanjutnya   diperluas   dan   diperbaiki   oleh   Shlomo   dan   Yael   Sharan   di Universitas Tel Aviv, merupakan perencanaan pengaturan kelas yang umum di mana  para  siswa  bekerja  dalam  kelompok  kecil  menggunakan  pertanyaan kooperatif,  diskusi  kelompok,  serta perencanaan  dan  proyek  kooperatif.  Pada metode  ini  para  siswa  dibebaskan  membentuk  kelompoknya  sendiri  yang terdiri dari dua sampai enam orang anggota. Kelompok ini kemudian memilih topik –topik dari unit yang telah dipelajari oleh seluruh kelas, membagi topik- topik ini menjadi tugas-tugas pribadi, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiapkan laporan kelompok. Setiap        kelompok lalu mempresentasikan atau menampilkan hasil penemuan mereka didepan kelas. Group Investigation memiliki akar filosofis, etis, psikologi penulisan sejak tahun  abad  ini.  Yang  paling  terkenal  diantara  tokoh-tokoh  terkemuka  dari orientasi  pendidikan  ini  adalah  John  Dewey.  Pandangan  Dewey  terhadap kooperasi  di  dalam  kelas  sebagai  sebuah  pra  syarat  untuk  bias  menghadapi berbagai  masalah  kehidupan  yang  kompleks  dalam  masyarakat  demokrasi. Kelas  adalah  sebuah  tempat  kreatifitas  kooperatif  dimana  guru  dan  murid membangun  proses  pembelajaran  yang  didasarkan  pada  perencanaan  mutual dari  berbagai  pengalaman,  kapasitas,  dan  kebutuhan  mereka  masing-masing. Pihak  yang  belajar  adalah  partisipan  aktif  dalam  segala  aspek  kehidupan sekolah,  membuat  keputusan  yang  menentukan  tujuan  terhadap  apa  yang dikerjakan.   Kelompok   dijadikan   sebagai   sarana   sosial   dalam   proses   ini. Rencana   kelompok           adalah   suatu   metode   untuk        mendorong   keterlibatan maksimal para siswa (Slavin, 2008:214-215).

     Dalam  metode  Group  Investigation  memiliki  3  konsep  utama,  yaitu:  (1) penelitian           (inquiry) yaitu         proses dimana siswa dirangsang dengan menghidupkan  pada  suatu  masalah.  Siswa  merasa  dirinya  perlu  memberikan reaksi terhadap masalah yang dianggap perlu untuk diselesaikan. Masalah ini didapat  dari  siswa  sendiri  atau  diberikan  oleh  guru;  (2)  pengetahuan  yaitu pengalaman  yang  tidak  dibawa  sejak  lahir  namun  diperoleh  siswa  melalui pengalaman   baik   secara   langsung   maupun   tidak   langsung;   (3)   dinamika kelompok,  menunjukkan  suasana  yang  menggambarkan  sekelompok  individu yang  saling  berinteraksi  mengenai  sesuatu  yang  sengaja  dilihat  atau  dikaji bersama   dengan   berbagai   ide   dan   pendapat   serta   saling   tukar-menukar pengalaman dan saling berargumentasi.

Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait (Nurhadi, 2004:112-113). Elemen-elemen itu adalah: (1) Saling ketergantungan positif, pembelajaran kooperatif, menciptakan         suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan  inilah  yang  dimaksud dengan   saling   ketergantungan   positif.   Saling   ketergantungan   dalam     hal mencapai tujuan, menyelesaikan tugas, bahan atau sumber, peran, dan hadiah; (2)  Interaksi  tatap  muka,  Interaksi  tatap  muka  menjadikan  siswa  saling  tatap muka   dalam   kelompok   sehingga   dapat   berdialog.   Interaksi   semacam   ini penting   karena   siswa   merasa   lebih   mudah   belajar   dari   sesamanya;   (3) Akuntabilitas  individual,  Pembelajarran  kooperatif  menampilkan  wujudnya dalam belajar kelompok. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua  anggotanya,  karena  itu  tiap  anggota  kelompok  harus  memberikan sumbangan  demi  kemajuan  kelompok.  Penilaian  kelompok  yang  didasarkan atas   rata-rata   penguasaan   semua   anggota   kelompok   secara  individual   ini disebut  dengan  akuntibilitas  individual;  (4)  Ketrampilan  menjalin  hubungan antar  pribadi,  Ketrampilan  social  seperti  rasa  tenggang  rasa,  sikap  sopan terhadap   sesame,   mengkritik   ide,   mandiri   dan   berbagai   sifat   lain   yang bermanfaat  dan  menjalin  hubungan  antar  pribadi  tidak  hanya  di  asumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.

  1. 1.      Hasil belajar

Hasil belajar merupakan tolak ukur keberhasilan kegiatan           belajar mengajar.  Hasil  belajar  dapat  juga  dikatakan  sebagai  hasil  akhir  dari  proses belajar  mengajar  serta  merupakan  perwujudan  dari  kemampuan  diri  yang optimal setelah menerima pelajaran. Menurut Sudjana (1991: 22), hasil belajar memuat  kemampuan  yang  dimiliki  siswa  setelah  ia  menerima  pengalaman belajar.

  1. 2.      Kerangka berpikir

Berdasarkan  uraian  bab  I  dan  kajian  pustaka  tersebut  diatas,  maka  dapat disusun  suatu  kerangka  pemikiran  guna  memperoleh  jawaban  atas  permasalah yang timbul.   Dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi antara guru dengan siswa  melalui  kegiatan  belajar  mengajar  dalam  rangka  mencapai  hasil  belajar yang maksimal. Belajar pada dasarnya merupakan proses perubahan tingkah laku karena  adanya  pengalaman.  Sedangkan  mengajar  merupakan  suatu  upaya  untuk menyampaikan pengetahuan dengan tuntutan hasil yang berupa perubahan sikap dan nilai pada siswa yang belajar.

Hasil observasi yang dilakukan pada guru mata         pelajaran menggunakan alat-alat ukur menunjukkan bahwa yang menyebabkan siswa pasif dan hasil belajar siswa kurang optimal karena metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran belum melibatkan  keaktifan  siswa  secara  keseluruhan

Oleh karena itu, maka dalam pelaksanaan  kegiatan belajar mengajar Menggunakan Alat-Alat Ukur harus melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh. Salah satu metode yang perlu diterapkan untuk meningkatkan peran serta (keaktifan) siswa dalam proses pembelajaran  adalah  metode  pembelajaran  kooperatif  Group  Investigation  (GI).

  

METODOLOGI PENELITIEN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK Negeri 2 Bitung dan pemilihan tempat itu atas dasar pertimbangan sebagai berikut:

a)   Kelas X Teknik Alat Berat Sekolah  Menengah  Kejuruan  Negeri  2 Bitung merupakan  tempat  PPL  (Praktek Kerja  Lapangan)  sehingga  peneliti  sudah  mengetahui  kondisi  sekolah  maupun siswanya.

b)  Sudah mengetahui model pembelajaran yang diterapkan di SMK Negeri 2 Bitung karena sudah melakukan observasi sebelumnya.

Waktu pelaksanaan penelitian yaitu 3 bulan pada bulan April - Juni 2012.

Subyek  penelitian  ini  adalah  siswa  kelas  X  TAB  SMK  Negeri  2 Bitung Tahun  ajaran  2011/2012  yang  berjumlah  27  siswa.  Alasan  peneliti  memilih  sampel kelas  X  TAB  karena  peneliti  pernah  mengajar  dalam  kegiatan  PPL  dikelas  tersebut sehingga peniliti sudah mengetahui karakteristik siswa-siswa tersebut.

Teknik Pengumpulan Data

Untuk  memperoleh  data  yang  sesuai  dengan  apa  yang  diharapkan  dalam penelitian maka peneliti menggunakan metode sebagai berikut:

(1)Observasi    lapangan          untuk   mengamati       aktifitas siswa selama proses pembelajaran Menggunakan alat-alat ukur. lembar observasi biasanya digunakan untuk memperoleh data tentang perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan oleh guru dan juga melihat tingkat efektifitas proses serta hasil pembelajaran. (2)Wawancara yang dilakukan kepada guru dan siswa. Wawancara adalah sebuah dialog   yang   dilakukan   oleh   pewawancara   untuk   memperoleh   informasi dari terwawancara. Wawancara dilakukan berulang kali yang bertujuan untuk mendapatkan  informasi  pada  setiap  proses  pembelajaran  yang  dapat  dijadikan refleksi untuk perbaikan pada proses pembelajaran. (3)Tes yang diberikan kepada siswa yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa mengenai Menggunakan Alat-Alat Ukur dengan metode GI. Dengan tes ini peneliti dapat mengetahui apakah hasil belajar Menggunakan Alat-Alat Ukur mengalami penigkatan sesuai yang diharapkan peneliti. (4)Kajian dokumen dilakukan dalam berbagai   dokumen   atau   arsip   yang digunakan dalam  proses  pembelajaran seperti: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), hasil diskusi kelompok pada tiap siklus, buku ajar yang digunakan, foto atau rekaman proses penelitian.

Prosedur Penelitian

Langkah-langkah operasional penelitian meliputi tahap persiapan, tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan  tindakan, tahap analisis, dan tahap refleksi serta tahap tindak lanjut.

Pada  tahap  persiapan  yang  perlu  dipersiapkan,  yaitu:  (1)  permintaan  ijin  kepada kepala sekolah dan guru Menggunakan Alat-Alat Ukur SMK Negeri 2 Bitung; (2) Observasi pra tindakan untuk mendapatkan gambaran awal mengenai kegiatan belajar mengajar khususnya Menggunakan Alat-Alat Ukur; (3)  identifikasi  permasalahan  dalam  pelaksanaan  pembelajaran  Menggunakan Alat-Alat Ukur kelas X TAB yang telah dilakukan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan kelas dilakukan dikelas X TAB SMK N 2 Bitung dalam 2 siklus dengan 4 kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari beberapa langkah  yaitu perencanaan, pelaksanaan, obsevasi,  dan  refleksi.  

KondisiAwal Pembelajaran KelasXTeknik Alat Berat (TAB)

Kegiatan observasi dilakukan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan  guru  dalam  menyampaikan  materi  menggunakan alat-alat ukur  dikelas  X TAB  SMK  Negeri  2 Bitung.  Dari  hasil  observasi  awal  menunjukkan  bahwa  guru aktif  sedangkan siswa  pasif,  karena  guru  masih  menerapkan  metode  ceramah.  Peran serta siswa dalam proses pembelajaran Menggunakan Alat-Alat Ukur masih kurang dan interaksi antar siswa pada proses pembelajaran hampir tidak ada, sehingga penguasaan terhadap materi pun masih kurang.

Hasil tes kemampuan awal siswa kelas  X  TAB  SMK  Negeri  2 Bitung pada materi Menggunakan alat-alat ukur masih kurang, dimana dari 27 siswa, ada 17 siswa yang mendapat nilai kurang dari 70*(62,96%). Sedangkan yang mendapat nilai diatas 70 sebanyak 10 siswa (37,04%). Nilai rata-rata tes kemampuan awal belum memenuhi batas tuntas yang ditetapkan di SMK  Negeri  2 Bitung  yaitu  70.  Penerapan  pembelajaran  Group  Investigasi  (GI) diharapkan  dapat  meningkatkan  hasil  belajar  siswa  dengan  meningkatkan  keaktifan siswa  dan  kerjasama  kelompok  pada  materi  jenis dan fungsi alat ukur.

Pelaksanaan Penelitian

Siklus I

 PERENCANAAN

            Pembelajaran dengan metode Group   Investigation   (GI)   dalam  pelaksanaannya  berupa   diskusi   kelompok   untuk menginvestigasi  bahan  yang  diajarkan  kelompok  yang selanjutnya  diadakan  presentasi kelompok. Siklus I direncanakan 2 kali pertemuan, pertemuan pertama diskusi kelompok dan pertemuan kedua memberikan tes kemampuan kognitif, alokasi waktu 4 x 45 menit. Instrumen   yang   disiapkan   untuk   pembelajaran   adalah  silabus   dasar kompetensi kejuruan menggunakan alat-alat ukur, RPP, lembar tugas diskusi kelompok 1 dan Tes Kognitif 1. Selain itu dipersiapkan  pula  lembar  observasi  afektif  siswa,  lembar  observasi  psikomotor  siswa dan lembar observasi performance guru.

TAHAP TINDAKAN

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan RPP yang dibuat, siklus I direncanakan 2 kali pertemuan dengan alokasi waktu tiap pertemuan 2 x 45 menit. Untuk pertemuan   ke-1 guru mulai menerapkan   metode pembelajaran  kooperatif  Group  Investigation  (GI).  Diawali  dengan  guru  menerangkan secara  singkat  mengenai  materi  jenis dan fungsi alat ukur, selanjutnya siswa diberikan tugas untuk membentuk kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang.

TAHAP OBSERVASI

Observasi   yang   dilakukan   pada   dasarnya   bertujuan   untuk   menilai   situasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan metode Group Investigasi (GI). Tahap observasi dan  evaluasi  terhadap  siklus  I  dilaksanakan  dengan  menggunakan  tes  kemampuan kognitif siswa, lembar observasi psikomotor siswa, lembar observasi afektif siswa dan lembar observasi performance guru.

 

REFLEKSI

            Hasil  tes  kognitif  siklus  I  menunjukkan hasil  pencapaian  ketuntasan  sebesar 66,67%,  ini  belum  mencapai  target  minimal  70%  namun  dibandingkan  dengan  tes kemampuan awal sudah mengalamai peningkatan. Persentase proses belajar afektif siswa dari hasil observasi sebesar 66,789 % dan ini belum mencapai target minimal 70%. Hasil observasi  proses  belajar  psikomotorik  siswa  menunjukkan  persentase  sebesar  63,09% dan  ini  belum  mencapai  target  yang  diinginkan,  yaitu  sebesar  70%.  Hasil  observasi performance guru pada pertemuan ke-1 dan ke-2 menunjukkan rata-rata 77,78 hal ini sudah cukup baik namun dalam beberapa hal ini masih memerlukan pembenahan seperti pada pengaturan waktu.

Siklus II

            Pembelajaran  pada  siklus  II  mempunyai  tahapan-tahapan  yang  sama  seperti siklus I. perbedaannya terletak pada tahap perencanaannya. Perencanaan pada siklus II tergantung pada hasil refleksi siklus I.

TAHAP PERENCANAAN

            Proses  kegiatan  pembelajaran  pada  siklus  II  masih  berpusat  pada  aktifitas guru  dan  siswa.  Materi  yang  diberikan  pada  pembelajaran  siklus  II  berbeda  dengan materi  pada  siklus  I  yaitu  prinsip kerja alat ukur. Tetapi metode yang digunakan sama seperti siklus I yaitu Group Investigation (GI). Kegiatan penelitian pada siklus  II  diawali  dengan  membuat  rencana  tindakan  yang  disusun  berdasarkan  hasil analisa dan refleksi pada siklus I. Pada siklus II ini dirancang dalam dua kali pertemuan dengan  alokasi  waktu  setiap  pertemuan  adalah  4  x  45  menit.  Perencanaan  tindakan diawali dengan penyusunan instrumen pembelajaran untuk siklus II yaitu: Silabus dasar kompetensi kejuruan menggunakan alat-alat ukur , RPP, lembar diskusi 2 siklus II, dan tes kognitif 2 siklus II. Selain itu dipersiapkan pula lembar observasi afektif siswa, lembar observasi   psikomotor   siswa,   lembar   observasi performance   guru   serta   pedoman wawancara.

ANALISA

Observasi yang di lakukan menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran siklus II mengalami peningkatan   yang  cukup  baik.  Guru  dan   peneliti  sudah  mengerti  dan  memahami kekurangan  pada  pelaksanaan  siklus  I  dan  mempunyai  solusinya  yaitu  pada  materi selanjutnya, siswa melaksanakan investigasi materi dengan lebih lengkap dan jelas untuk selanjutnya  dipresentasikan  didepan  kelas.  Hasil  analisa  pembelajaran  menggunakan model  pembelajaran  kooperatif  dengan  metode  Group  Investigation  (GI)  dapat  dilihat dari:

REFLEKSI

Hasil keseluruhan pencapaian belajar siswa dengan menerapkan metode Group Investigation  (GI)  cukup  efektif.  Tampak  dari  sikap  siswa  dengan  penilaian  afektif, penilaian  psikomotorik  dan  hasil  tes  kognitif  siswa.  Untuk  mengetahui  sejauh  mana pemahaman   siswa   terhadap   materi   setelah   tindakan,   dilakukan   tes   kognitif   yang menunjukkan  hasil  capaian  ketuntasan  sebesar  92,59%  dan  ini  berarti  telah  mencapai target   minimal   70%.   Berdasarkan   evaluasi   dan   analisa   diketahui   bahwa  besarnya persentase proses belajar afektif siswa dari hasil observasi sebesar 78,271%, yang berarti berhasil  melampaui  target  70%.  Hasil  observasi  proses  belajar  psikomotorik  siswa menunjukkan   persentase   sebesar   79,69%.   Ini   menunjukkan   bahwa   proses   belajar psikomotorik  siswa  telah  berhasil  melampaui  target  yang  diinginkan  yaitu  70%.  Hasil observasi performance guru pada pertemuan ke-3 dan ke-4 ini menunjukan  persentase sebesar  77,8  %  ini  berarti  berhasil  melampaui  target  70%  dan  menunjukka  adanya peningkatan   pada   siklus   I.   Proses   pembelajaran   secara   keseluruhan   terlihat   telah mencapai target minimal yang ditentukan, sehingga siklus dapat dihentikan.

 

KESIMPULANDAN SARAN 

A.  Kesimpulan

       Dengan menggunakan metode Group Investigasi (GI) dalam pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini terbukti dengan adanya peningkatan pada setiap siklus. Efektifitas pembelajaran dari pemanfaatan metode Group Investigasi (GI) dalam pembelajaran kooperatif terlihat efektif. Karena dapat dilihat dari proses pembelajaran yang berkualitas sehingga hasil belajar siswa meningkat.

B.  Saran

Berdasarkan kesimpulan maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut:

1.   Guru sebaiknya memperhatikan model pembelajaran yang digunakan, yaitu dengan melibatkan  siswa  secara  aktif  sedangkan  peran  guru  hanya  sebagai  fasilitator  dan motivator.  Salah  satu   model  pembelajaran   yang  dapat  digunakan   yaitu  model pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation.

2.    Dalam pemanfaatan metode Group Investigation sebaiknya siswa dijelaskan secara rinci  dahulu,  agar  pada  saat  metode  itu  digunakan  tidak  terjadi  kebingungan  dan membuang waktu dengan percuma seperti pada awal siklus I.

3.   Dalam  penggunaan  metode  Group  Investigasi  harus  ada  pembagian  waktu  kepada setiap  kelompok  untuk  presentasi,  agar  semua  kelompok  mendapat  giliran  untuk presentasi di depan kelas.

4.   Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya memberikan perhatian kepada seluruh siswa  agar  siswa  yang  memiliki  kemampuan  rendah  tidak  merasa  minder  dan akhirnya hanya bersikap pasif pada saat proses pembelajaran berlangsung.

5.    Guru hendaknya  memberikan  perhatian  kepada  permasalahan  yang  dihadapi  oleh siswa, agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi lebih baik.

6.  Siswa hendaknya bisa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran, tidak tergantung kepada guru. Apabila ada yang tidak dimengerti bisa bertanya kepada guru  atau temannya yang lebih pandai.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT.Gramedia Widia Sarana Indonesia.

Arends.   1997.   Classroom   Instruction   And   Management.   USA:   The Mc.Graw-Hill Companies,Inc.

Kasbolah, K. 2001. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Surabaya: UMM Press

Masidjo. 1995. Penilaian PencapaianHasilBelajarSiswadiSekolah. Yogyakarta: Kanisius

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

Siti Rohana. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) untuk meningkatkan prestasi belajar Biologi kelas XI IPA 4 SMA Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2007/2008. Surakarta : FKIP.UNS.

Slavin, R.E.1995. CooperativeLearningTheoryResearchandPracticeSecondEdition. Boston: Allyn and Bacon

Sudjana, Nana. 1991. PenilaianHasilProsesBelajarMengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Suprijono, A. 2009. Cooperative  Learning  Teori  dan  Aplikasi  Paikem.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suradji. 2008. StrategiBelajarMengajar. Surakarta: UPT Penerbitan dan Percetakan (UNS Press)

Sutopo, H.B.Uno. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

W.S. Winkel. 2010. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Cipta

 


Dibaca: 2656 kali

Jika Penulis Tidak Memiliki Alamat Email Silahkan Anda Menghubungi Admin di web.teknik.unima@gmail.com

Isi Komentar :





0 Komentar :