Rabu, 14 Agustus 2013 - 12:33:23 WITA

Hubungan Konsep Diri dan Kecerdasan Emosional Dengan Hasil Belajar TIK Siswa SMA Negeri 3 Tondano

 

Penulis : I Wayan Eka Wardana

NIM : 09 311 626

wayan_eka_wardana@yahoo.com


ABSTRAK

Pembimbing: Drs. J. T. Togas, M.SEE dan Dra. N. Sangi, MPd

I Wayan Eka Wardana. 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan konsep diri dan kecerdsan emsional dengan hasil belajarTIK siswa kelas XI SMA Negeri 3 Tondano. Pada tahun ajaran 2012-2013.Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 54. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 48 diambil dari 3 kelas yaitu kelas IPA sebanyak 18 siswa, kelas Bahasa sebanyak 10 siswa dan kelas IPS sebanyak 20 siswa, teknik pengambilan jumblah sampel menggunakan rumus Taro Yamane.Data konsep diri dan kecerdasan emosional diambil melalui angket sedangkan hasil belajar diambil melaui teknik dokumentasi. Uji persyaratan analisis menggunakan uji normalitas dan uji linieritas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan yang positif antara konsep diri dengan hasil belajar mata pelajaran TIK sebesar 0,63 dengan koefisien determinan 40%; (2) terdapat hubungan yang positif antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar mata pelajaran TIK sebesar 0,66 dengan koefisien determinan 44% dan (3) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara Knsep diri  dan  kecerdasan emsional secara bersama-sama dengan hasil belajar mata pelajaran TIK sebesar 0,71 dengan koefisien determinan 33%

 

Kata kunci :konsep diri; kecerdasan emosional; hasil belajar

 

PENDAHULUAN

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya meningkatkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, pendidikan dilakukan agar mendapat tujuan bersama yaitu untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat, kemudian bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar dapat menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang berdemokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan yang harus dicapai pada hakikatnya merupakan bentuk-bentuk atau pola tingkah laku yang harus diketahui peserta didik, baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan berkomunikasi interpersonal yang baik dan benar.Padasuatuprosespendidikan,seorang siswadapatdikatakanberhasilapabila siswatersebutmendapatkantambahanpengetahuan, pemahamandanhasilbelajar yang tinggi.Hasilbelajaryang tinggimerupakanhalyang penting dandiinginkanoleh siswadalam kegiatanbelajar.Hasilbelajaryang diperolehdapatmenunjukkan keberhasilansiswa dalamkegiatanbelajar.Denganmengetahuihasilbelajar,siswa dapat mengetahui kemajuan dalam kegiatan belajar.

SMA Negeri 3 Tondano merupakan salah satu lembaga pendidikan formal berusaha seoptimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dalam menyelenggarakan pendidikan. Proses pembelajaran TIK lebih banyak melakukan kegiatan dalam praktikum pembelajaran. Setiap pertemuan dilakukan di dalam ruang praktikum dengan sarana yang sudah cukup memadai.Namun dari hasil observasi di SMA didapati bahwa pencapaian hasil belajar siswa dalam mata pelajaran TIK ini masih cukup kurang dan belum sesuai dengan yang diharapkan.

Konsep diri yang ada pada siswa merupakan inti atau pusat navigasi kepribadian seorang siswa, sehingga konsep diri sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas seseorang, oleh karena itu bisa dikatakan bahwa konsep diri ini erat kaitannya terhadap kualitas sikap dan prilaku individu, baik kaitannya dengan diri sendiri (intrapersonal) maupun dengan lingkungan atau orang lain (interpersonal).

Sebagian Siswa SMA Negeri 3 Tondano adalah siswa atlet yang memiliki ambisi untuk memperoleh juara dalam kejuaraan olahraga, namun hasil yang didapat pada mata pelajaran tik masih kurang.Jadi kecerdasan emosional siswa sangat diperlukan untuk mengenali perasaan siswa, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual pada siswa.

Dalam kaitan pentingnya konsep diri dan kecerdasan emosional pada diri siswa sebagai salah satu faktor penting untuk meraih hasil belajar yang baik, maka judul dalam penelitian ini adalah “Hubungan Konsep Diri dan Kecerdasan Emosional denganHasil Belajar TIK Siswa SMA Negeri 3 Tondano”.

 

Identifikasi Masalah

  1. Rendahnya hasil belajar TIK siswa yang dapat disebabkan oleh kurangnya motivasi siswa.
  2. Rendahnya hasil belajar TIK siswa yang dapat disebabkan oleh rendahnya tingkat bimbingan orngan tua.
  3. Rendahnya hasil belajar siswa TIK yang dapat disebabkan karena rendahnya konsep diri siswa.
  4. Rendahnya hasil belajar TIK siswa yang dapat disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosional siswa di sekolah.
  5. Rendahnya motivasi belajar siswa yang dapat disebabkan oleh keyakinan diri siswa.
  6. Rendahnya hasi belajar siswa TIK dapat disebabkan oleh rendahnya kreatifitas belajar siswa disekolah.

 

Batasan Masalah :

  1. Hubungan antara konsep diri dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano.
  2. Hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano.
  3. Hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional secara bersama dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano.

 

Rumusan Masalah :

  1. Apakah terdapat hubungan antara konsep diri dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano?
  2. Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano?
  3. Apakah terdapat hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional secara bersama dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano?

 

Tujuan Penelitian :

  1. Mengetahui hubungan antara konsep diridengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano.
  2. Mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano.
  3. Mengetahui hubungan antarakonsep diri dan kecerdasan emosional secara bersama dengan hasil belajar TIK siswa SMA Negeri 3 Tondano.

Manfaat penelitian

a. Manfaat Teoretis

Secara teoritis penelitian bermanfaat sebagai sumbangan penelitian dalam upaya belajar dan pembelajaran.

b. Manfaat Praktis

Bagi siswa, dapat memeperbaiki konsep diri yang buruk/negatife menjadi konsep diri positif dan kecerdasan emosional dapat bertambah baik sehingga dapat meningkatkan hasil belajar TIK.

 

KAJIAN TEORI

1.      Hasil Belajar

Setiap individu melakukan kegiatan belajar, maka individu tersebut akan terjadi perubahan-perubahan prilaku, baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Besar kecilnya atau tinggi rendahnya hasil belajar pada lembaga-lembaga pendidikan formal atau sekolah yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai. Hasil proses belajar yang dievaluasi oleh suatu test atau evaluasi, merupakan cerminan dari kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya.

Hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara keseluruhan yang menjadi indikator kompetensi dasar dan derajat perubahan prilaku yang bersangkutan (Mulyasa 2009:212). Menurut Nana Sudjana (dikutip dari Yudhistira Ardana) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Hasil belajar yang baik dalam mata pelajaran TIK sangat diharapkan, karena mata pelajaran TIK dasar dari pengetahuan teknologi informasi, dengan baiknya hasil belajar TIK disekolah, maka siswa dapat mengikuti perkembangan teknologi. pelajaran TIK kelas XI di SMA Negeri 3 Tondano.

 

2.      Konsep Diri

Slameto (2010.182) menyatakan konsep diri adalah Presepsi keseluruhan yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri.Burns (Slameto.2010) Mengatakan konsep diri merupakan suatu kepercayaan mengenai keadaan diri sendiri yang sulit diubah.

Darmawan (Bihnam. 2012) berpendapat bahwa konsep diri merupakan persepsi diri tentang aspek fisik, sosial, dan psikologis yang di peroleh individu melalui pengalaman dan interaksinya dengan orang lain. Konsep diri terbentuk dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang-orang terdekat dalam kehidupaan kita.

Lukaningsih L. Zuyina (2010;13) berpendapat bahwa konsep diri adalah perasaan seseorang tentang dirinya sebagai pribadi yang utuh dengan karakteristik yang unik, sehingga akan mudah dikenali sebagai sosok yang mempunyai ciri khas tersendiri. Seseorang akan mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan, kelebihan dan kekurangannya.

 

A.    Komponen-komponen Konsep Diri

Menurut Hurlock (Ritandiyono, Retnaningsih ; 1996) Tiga komponen utama dari konsep diri terdiri dari :

a. Komponen Perseptual/fisik

Penilaian yang dimiliki seseorang mengenai penampilan fisiknya dan impresi yang ia berikan kepada orang lain. Hal ini mencangkup gambaran yang ia miliki mengenai perasaan menarik dan serasi pada tubuhnya, pentingnya setiap bagian yang berada pada tubuhnya, hingga prilaku yang diberikan pada orang lain.

b). Komponen konseptual/Psikis

Konsepsi mengenai karakteristik dirinya yang memiliki perbedaan, kemampuan dan ketidak  mampuan, latar belakang dan asal-usulnya, serta masa depanya. Komponen fisik ini tersusun atas beberapa kualitas penyesuain diri yaitu, jujur, percaya diri,kemandirian dan pendirian yang teguh.

c). Komponen Sikap

Perasaan seseorang mengenai dirinya sendiri, sikapnya terhadap statusnya di masa kini dan prospek masa depannya, perasaan berharga dan sikapnya terhadap harga diri, penyesalan, perasaan bangga dan malu.

Karakteristik konsep diri diartikan sebagai sifat dan prilaku yang menunjukan bahwa seseorang memiliki konsep diri positif dan negatif. Karakteristik konsep diri akan berkembang tidak selamanya tetap positif dan negatif karena konsep diri akan berkembang seiring pengalaman individu dengan lingkungannya. Konsep diri positif adalah pengetahuan yang luas dan bermacam-macam tentang diri, pengharapan yang realitis dan hargai diri yang tinggi. Konsep diri negatif adalah pengetahuan tidak tepat tentang diri sendiri. Pengharapan yang tidak realitis dan harga diri yang rendah.

Konsep diri memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, hal tersebut dikarenakan bahwa konsep diri merupakan inti kepribadian yang mengarahkan individu bertingkah laku. Burns (Sugiharti. 2010) menyebutkan ada tiga fungsi konsep diri yaitu:

Pertama konsep diri sebagai pemelihara konsistensi internal,pada dasarnya individu cenderung untuk bersikap konsisten dengan pandangan sendiri. Hal ini dikarenakan bila pandangan, ide, perasaan dan presepsinya tidak membentuk suatu keharmonisan atau beertentangan akan menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan. Kemudian bila individu memiliki ide-ide, perasaan atau presepsi yang tidak menyenangkan individu tersebut, maka mengubah situasi tersebut tidak menyenangkan antara lain dengan cara menolak untuk menerima kenyataan yang diungkapkan oleh lingkungan mengenai dirinya.

Kedua konsep diri sebagai Interpretasi dari pengalaman, Pengalaman yang didapatkan setiap individu biasanya akan diinterpretasikan berbeda oleh setiap orang. Pengalaman terhadapsuatu peristiwa diberi arti tertentu oleh setiap orang. Pemberian arti ini tergantung pada presepsi yang dimiliki individu tentang dirinya. Presepsi tersebut biasanya negetif ataupun positif, hal ini tergantung dari bagaimana individu tersebut memandang dirinnya.

Ketiga konsep diri sebagai harapan, setiap individu memiliki harapan tertentu terhadap dirinya, akan tetapi harapan itu akan berbeda-beda tergantung dari bagaimnana individu melihat dan mempersepsikan dirinya sendiri. Konsep diri menentukan apa yang diharapkan terjadi oleh individu, individu yang memendang dirinya sebagai sesuatu yang berharga, mengharapkan orang lain untuk memperlakukan dirinya sesuai dengan apa yang ditetapkannya.

 

3.      Kecerdasan Emosional

Menurut Saphiro (Hamzah, 2008) istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

Saloveydan Mayer (Aunurahman,2011:87)dendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”

Menurut Goleman (Alifuddin,2012:175) kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami emosi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan untuk mengenali emosi orang lain dan kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain.  Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Salovey (Hamzah, 2008) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan emosional yaitu :

a. Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

b. Mengelola Emosi

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam  menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

c. Memotivasi Diri Sendiri

Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

d. Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain. 

e. Membina Hubungan

“Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi”

 

pada dasarnya emosi adalah dorongan untuk bertindak yang mempengaruhi reaksi seketika untuk mengatasi masalah. Sehingga emosi yang cerdas akan mempengaruhi tindakan siswa dalam mengatasi masalah, mengendalikan diri, semangat, tekun serta mampu memotivasi diri sendiri yang terwujud dalam hal-hal berikut ini.

Pertama Motivasi belajar yang berasal dari dalam diri, di mana dengan pengendalian diri yang baik, anak yang mampu mengatur sendiri kegiatannya, akan mengenal kecepatan belajarnya serta lebih mengerti tujuan dan manfaat belajar. Anak tidak perlu terlalu diatur dan disuruh belajar karena ia sendiri sudah menetapkan jadwal belajarnya dan bisa menciptakan kesenangan dalam belajar.

Kedua  Pandai, umumnya anak yang secara emosi cerdas, juga mampu mengoptimalkan prestasinya karena didorong oleh motivasi belajar yang besar. Kepandaian seorang siswa tidak hanya didukung oleh kecerdasan kognitif yang tinggi saja. Tidak akan berarti jika anak yang pandai tetapi di sekolah ia tidak berprestasi baik karena malas belajar, tidak bisa berkonsentrasi sehingga potensinya yang baik tidak terwujud secara memadai.

Ketiga Memiliki minat.Seorang siswa yang cerdas secara emosional, sejak dini sudah mengerti keinginannya dan lebih terarah dalam melakukan tugas­tugasnya.Minatnya lebih menetap dan upayanya lebih berkaitan dengan kegiatan yang sesuai dengan minatnya.

Keempat Dapat Konsentrasi.Dengan kemampuannya untuk mengendalikan diri secara sehat,siswa yang cerdas secara emosional akan lebih bisa memusatkan konsentrasinya dan tidak mudah teralih oleh situasi sesaat. Kemampuan untuk memusatkankonsentrasi tidak hanya pada pelajaran sekolah, tetapi juga pada semua kegiatan yang tengah ditekuninya. Dengan demikian, dalam belajar dan melakukan kegiatan, seorang siswa akan mampu menunjukkan efisiensi dan efektivitas kerja. Waktu tidak banyak terbuang dan hasil belajar atau kerja yang diperoleh akan cukup banyak.

Kelima Mampu membaurkan diri di lingkungan. Siswa dengan emosi yang sehat akan lebih terampil dalam menyesuaikan diri di lingkungannya. Sikapnya menyenangkan hati orang lain dan lebih dapat diterima lingkungannya. Mereka cenderung lebih ramah dan tidak menuruti kehendak hatinya dalam menyelesaikan suatu masalah.

Kecerdasan emosi yang tinggi tidak jarang mampu berprestasi setara dengan anak-anak yang kecerdasan kognitifnya tinggi. Kemampuan mereka untuk membina kerja sama dan menunjukkan empati dlan toleransi terhadap orang lain menjadikan mereka memiliki banyak kawan serta bisa memperoleh informasi pelajaran yang cukup luas. Ditambah lagi dengan konsentrasinya yang tinggi, mereka cukup mampu meraih prestasi optimal.Anak dengan kecerdasan kognitif yang tinggi dan kecerdasan emosi yang tinggi biasanya menjadi anak yang disukai oleh lingkungannya dlan mampu mewujudkan diri dengan optimal.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Tondano, Kabupaten Minahasa Induk, Propinsi Sulawesi Utara. Dengan waktu yang digunakan pada penelitian ini mulai dari persiapan, pengumpulan data hingga penulisan laporan penelitian adalah 3 bulan mulai sejak Februari -  April 2013.

            Metode Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode korelasi. Desain penelitian sebagai berikut;

Keterangan :

X1  = Konsep Diri

X2  = Kecerdasan Emosional

Y   = Hasi belajar

Definisi operasional variable pada penelitian ini yakni;

1. Konsep diri adalah skor yang ditunjukan sebagai gambaran seseorang tentang dirinya sendiri yang meliputi tampilan fisik, psikis, dan sikap.

2. Kecerdasan emosional adalah skor yang merupakan gambaran kemampuan  seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

3. Hasil belajar adalah suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki siswa setelah siswa tersebut mengalami aktivitas belajar. Dalam hal ini hasil belajar siswa dinyatakan dengan nilai semester siswa mata pelajaran TIK.

 

Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 3 Tondano tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 54 siswa yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas IPA sebanyak 20 siswa, kelas Bahasa sebanyak 11 siswa dan kelas IPS sebanyak 23 siswa.

Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel menggunakan rumus TaroYamane (Alma. buchari, 2006). Sesuai dengan pehitungan rumus didapat 48 sampel..

Keterangan.

n   = Jumlah sampel

N  = Jumlah Populasi

d2   = Presisi yang ditetapkan (5%)

 

Sesuai dengan pehitungan rumus didapat 48 sampel..

Teknik pengumpulan data untuk variable konsep diri dan kecerdasan emosional dilakukan dengan menggunakan instrument dalam bentuk angket.angket yang digunakan pada penelitian adalah angket dengan cara perhitungan Skala Likert.Sebelum mendapatkan data yang akan diteliti maka angket diujicobakan kepada 48 responden untuk mendapatkan informasi tentang validitas dan reliabilitas setiap butir soal. Sedangkan untuk pengumpulan data variabel hasil belajar diambil dari nilai ujian semester mata pelajaran TIK siswa kelas XI SMA Negeri 3 tondano yang meliputi penilaian keseluruhan  siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas selama setengah semester.

Pengujian persyaratan analisis meliputi uji normalitasdan uji liniaritas. Pengujian persyaratan analisis digunakan untuk menentukan data hasil penelitian apakah memenuhi persyaratan sebelum dilakukan uji hipotesis.

Teknik analisis yang digunakan dalam pengolahan data penelitian ini adalah teknik Analisis Korelasi. Langkah-langkah analisis data penelitian ini adalah:

1. Menghitung koefisien korelasi antara variabel X1 (Konsep diri) dan variabel Y (Hasil Belajar) dengan menggunakan persamaan koefisien korelasi produck moment.(Sugiyono, 2011:255)

keterangan;

rx1.y = nilai koefisien korelasi

n    = jumblah sampel

X1   = Skor variabel X

Y    = Skor variabel Y

2. Menghitung koefisien korelasi antara variabel X2 (kecerdasan emosional) dan variabel Y (hasil belajar) dengan menggunakan persamaan koefisien korelasi produck moment.

3. Menghitung koefisien korelasi antara variabel X1 (kecerdasan emosional) dan variabel X2 (kecerdasan emosional) dengan menggunakan persamaan koefisien korelasi produck moment.

4. Menghitung koefisien korelasi antara variabel X1 (konsep diri) dan variabel X2 (kecerdasan emosional) dengan variabel Y (hasil belajar) dengan menggunakan persamaan koefisien korelasi ganda. (Sugiyono, 2011:266)

Keterangan;

rx1.x2.y = nilai koefisien korelasi ganda antara variabel X1,X2 dan variabel Y

rx1.y     = nilai koefisien korelasi antara variabel X1 dan variabel Y

rx2.y    = nilai koefisien korelasi antara variabel X2 dan variabel Y

rx1.x2   = nilai koefisien korelasi antara variabel X1, dan variabel X2

5. Melakukan pengujian hipotesis penelitian atau uji signifikan untuk mengetahui hubungan variabel X1 dan X2 dengan Y. Rumus yang digunakan yaitu :

Keterangan;

R         = nilai koefisien korelasi ganda

K        = Jumblah variabel bebas

n          = Sampel

Fhitung  =nilai F yang dihitung

Uji Persyaratan Analisis

Hasil pengujian normalitas konsep diri, kecerdasan emosional dan hasil belajar siswa dilihat pada tabel 1.

Dengan membandingkan harga-harga chi-kuadrat untuk setiap variabel dalam tabel, dapat dilihat bahwa chi-kuadrat hitung lebih kecil dari pada chi-kuadrat daftar, daftar signifikan 0,05%. Dapat disimpulkan bahwa data konsep diri, kecerdasan emosional dan hasil belajar berdistribusi normal.

Hasil pengujian terhadap ketiga variabel ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat apakah bersifat linear atau tidak dapat dilihat pada tabel 2.

PEMBAHASAN

1.      Hubungan konsep diri (X1) dengan hasil belajar TIK (Y).

Berdasarkan hasil analisis pengujian antara konsep diri (X1) dengan hasil belajar TIK (Y), diperoleh  besarnya koefisien korelasi = 0,63 berdasarkan tabel interprestasi koefisien korelasi nilai r hal ini menunjukkan tingkat hubungan yang kuat antara konsep diri dengan hasil belajar TIK. Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X1 terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan yaitu r2x100%=0,632x100%= 40%. Dengan demikian besarnya sumbangan variabel konsep diri terhadap variabel hasil belajar TIK adalah sebesar 40% .

Secara teori dapat diasumsikan konsep diri ada hubungannya dengan hasil belajar TIK, berdasarkan kajian pustaka, konsep dirimemegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena konsep diri merupakan inti dari kepribadian yang mengarahkan individu bertingkah laku. Kossep diri yang positif merupakan pengetahuan yang luas dan pengharapan yang realitis dan sikap menghargai diri yang tinggi. Jika seseorang memiliki konsep diri yang positif maka manfaat yang diberikan sangatlah baik terutama dari segi pengetahuan khususnya hasil belajar siswa dan sebaliknya jika siswa memiliki konsep diri yang negatif dan tidak dapat dirubah maka akan dapat berpengaruh pada hasil belajar siswa di SMA Negeri 3 Tondano.

 

2.      Hubungan antara kecerdasan emosional (X2) dan hasil belajar TIK(Y)

Berdasarkan hasil perhitungan analisis hubungan X2 dengan Y atau antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar TIK, diperoleh persamaan besarnya koefisien korelasi = 0,66, berdasarkan tabel interprestasi koefisien korelasi nilai r hal ini menunjukkan tingkat hubungan yang kuat antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar TIK. Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X2 terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan yaitu r2 x 100% = 0,662 x 100% = 44%. Dengan demikian besarnya sumbangan variabel kecerdasan emosional terhadap variabel hasil belajar TIK adalah sebesar 44% .

Berdasarkan hasil pembahasan di atas ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki hubungan dengan pencapaian hasil belajar. Berdasarkan pada kajian pustaka kecerdasan emosional akan mempengaruhi tindakan siswa dalam mengatasi masalah, mengendalikan diri, semangat, tekun, serta mampu memotivasi diri sendiri. Jika seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik maka akan bermanfaat dalam pendidikan dari segi pengetahuan dan peningkatan hasil belajar khususnya mata pelajaran TIK. Dapat dilihat dari rendah tingginya kecerdasan emosional dari masing-masing siswa di SMA Negei 3 Tondano.

                                        

3.      Hubungan antara konsep diri (X1) dan kecerdasan emosional (X2)  dengan hasil belajar TIK (Y)

Hasil perhitungan analisis hubungan X1 dan X2 secara bersama-sama dengan (Y), menunjukan besarnya Fhitung = 22,68 dengan taraf kepercayaan a 0,05 dan dk = n – k – 1= 48 – 2 - 1 = 46, sehingga ditemukan Ftabel = 3,21. Jadi Fhitung lebih besar dari F­tabel,yaitu Fhitung = 22,68 > Ftabel = 3,21. Dengan demikian menunjukan bahwa nilai yang diperoleh dari Fobservasi adalah signifikan.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara X1 (konsep diri) danX2 (kecerdasan emosional) secara bersama-sama dengan Y (hasil belajar TIK) di SMA Negeri 3 Tondano.

Berdasarkan hasil pembahasan, menunjukan bahwa konsep diri baik/positif dan kecerdasan emosional yang tinggi dapat memberikan hasil yang positif untuk hasil belajar TIK. Tpi sebaliknya konsep diri yang dimiliki siswa buruk/negative dan kecerdasan emosional tinggi maka hasil belajar yang didapatpun akan negative (buruk)

 

KESIMPULAN

  1. Terdapat hubungan antara konsep diri dengan hasil belajar TIK siswa kelas XI SMA Negeri 3 Tondano. Hubungan tersebut juga berbanding lurus dan berarti, menunjukkan bahwa Konsep diri siswa mempengaruhi hasil  belajar TIK. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jika konsep diri baik (positif) terus dikembangkan dan dimanfaatkan maka akan memberikan kontribusi yang positif bagi hasil belajar TIK, dalam hal ini memperoleh nilai yang memuaskan, sebaliknya jika konsep diri buruk (negatif) dan dibiarkan begitu saja dan tidak dimanfaatkan dalam pembelajaran maka hasil beljar siswa pun pasti akan menurun.
  2. Terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dan hasil belajar TIK kelas XI SMA Negeri 3 Tondano. Dalam penelitian kecerdasan emosional kuat mempengaruhi hasil beljar siswa. Dari pembahasan sebelumnya dapat dikatakan bahwa jika siswa mampu mengenali emosi, dapat mengelolah emosi, dapat memotivasi diri, dapat mengenali emosi orang lain dan dapat membina hubungan. tentunya hal ini dapat membantu siswa dalam meraih hasil belajar yang tinggi. Sebaliknya jika hasil belajar rendah maka salah satu hal yang mempengaruhi adalah kecerdasan emosional siswa yang kurang.
  3. Terdapat hubungan antara konsep diri dan  kecerdasan emosional secara bersama-sama dengan hasil belajar TIK siswa kelas XI SMA Negeri 3 Tondano. Konsep diri yang positif memberikan hasil yang positif untuk hasil belajar TIK siswa, begitu pula halnya dengan kecerdasan emosional siswa tanpa kecerdasan emosional yang baik maka akhirnya akan menuju pada hasil belajar yang kurang memuaskan, tapi sebaliknya jika siswa yakin dengan kecerdasan emosional maka hal ini dapat mendorong siswa untuk terus meningkatkan hasil belajarnya serta memberi pengaruh yang positif bagi siswa tidak hanya di dalam kelas tetapi juga sangat berguna untuk pengembangan kepribadian siswa itu sendiri.

 

Saran

Saran yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Para guru kiranya dapat dengan cermat melihat siswa yang memiliki konsep diri negative sehingga guru dapat membimbing seghingga konsep diri negative dapat berubah menjadi positif.
  2. Guru sebagai pusat mediator dan fasilitator di kelas mempunyai kontribusi besar dan sangat berperan untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan konsep diri siswa.
  3. Guru harus memberikan motivasi terhadap siswa serta melakukan pembelajaran yang bersifat aktif agar dapat melihat keberanian siswa serta pembawaan diri yang tidak membuat siswa merasa takut. Dengan demikian hasil belajar siswa dapat ditingkatkan  dan mutu pendidikan juga akan meningkat.
  4. Penelitian ini masih berskala kecil hanya diterapkan pada populasi yang terbatas, oleh karena itu untuk memberikan hasil penelitian yang maksimal perlu dilakukan penelitian dengan skala populasi yang lebih tinggi juga dengan mempertimbangkan beberapa variabel yang lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alifuddin, Moh. 2012. Reformasi Pendidikan Strategi Inovatif Peningkatan Mutu Pendidikan. Jakarta: Magna Scrip Publishing.

Alma,Buchari.2006.Belajar Mudah Penelitian. Bandung:Alfabeta

Ardana, Yudistira. http://ardanayudhistira.blogspot.com/2012/02/hasil-belajar.html diakses tanggal 05-06-2013 jam 06.45

Aunurrahman. 2011. Belajar dan pembelajaran. Bandung :Alfabeta

Bihnam. 2012.http://cafemotivasi.com/membangun-konsep-diri-positif/ diakses tanggal: 11/21/2012 jam 11.00 hari:Rabu

Hamzah.2008. Orientasi Barudalam Psikologi Pembelajaran.Jakarta :BumiAksara

http://Biologi-riryn-blodspot.com/2011/11/peran kecerdasan intelektual dan.html diakses pada tanggal: 8-05-2013 jam 06.30

Lukaningsih, L. Zuyina.2010. Pengembangan Kepribadian.Yogyakarta; Nuha Medika

Mulyasa. 2009.Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan : Kemandirian Guru Dan KepalaSekolah. Jakarta: Bumiaksara.

Riyatno & Retnaningsih.1996, Aktulisasi diri. Jakarta; Gunadarma

Sholehah, Maulidha. 2010. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Komunikasi Interpersonal AntarSiswa di Sekolah. Skripsi Jurusan Bimbingan Dan Konseling. Universitas Pendidikan Indonesia.

Slameto. 2010. Belajar&Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta :RinekaCipta.

Sugiharti.2010 .Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Relasi Interpersonal Teman Sebaya Pada Remaja Akhir.Skripsi Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan :PendekatanKuntitatif, Kualitatifdan R&D. Bandung : Alfabeta.

Sugiyono. 2012. Metode penelitian Kombinasi (Mixed Methods).Bandung; Alfabeta.

Sujana.2005.Metoda Statistika.Bandung;Tarsito


Dibaca: 1072 kali