Rabu, 26 Juni 2013 - 12:34:45 WITA

Hubungan Persepsi Siswa Terhadap Profesionalisme Guru Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Siswa Kelas Vii Smp Kristen Kotamobagu

 

Penulis : Jufita Angelina Madjid

NIM : 06 310 679

angel.madjid@yahoo.com


ABSTRAK

Apabila subjek penelitian kurang dari 100 orang, maka lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjek besar, maka sebaiknya diambil antara 10%-15% atau 20%-25%. Populasi yang menjadi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Kristen Kotamobagu. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik proposional random sampling.

Hasil data penelitian menunjukkan bahwa hubungan hasil belajar dengan prestasi merupakan hubungan yang liner dan sangat signifikan dengan persamaan regresi Ý = 61.63 + 0.166X. kekuatan hubungan kedua variabel di tunjukkan dengan korelasi rxy = 0.42 sangat signifikan dan positif mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa kelas VII SMP Kristen Kotamobagu. Metode yang digunakan adalah metode studi korelasi dengan ukuran sampel 40 orang siswa. Instrument penelitian persepsi siswa berbentuk angket sedangkan prestasi belajar siswa menggunakan teknik dokumtasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tredapat hubungan yang positif antara persepsi siswa dengan prestasi belajar siswa.

Kata Kunci : Persepsi Siswa Terhadap Profesionalisme Guru, Prestasi Siswa

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan  suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, aklat mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara begitu pentingnya  pendidikan bagi diri sendiri, masyarakat maupun bangsa, dan Negara sebagai wujud perhatian Negara Republik Indonesia, maka pemerintah berusaha meningkatkan mutu pendidikan sekarang ini. Peningkatan mutu pendidikan senantiasa disesuaikan dengan kemajuan ilmu teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan membuat pembanggunan bangsa akan menjadi lebih baik dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Guru merupakan peranan penting dalam dunia pendidikan, maka dari itu tugas dan dan peran guru dari hari ke hari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui pekembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat. Melalui sentuhan guru disekolah diharapkan mampu menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang tinggi.

Dalam pendidikan guru adalah seorang pendidik, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan suasana belajar yang menarik, memberi rasa aman, nyaman, kondusif dalam kelas.kondisi seperti itu jelas memerlukan keterampilan dai seorang.

Guru, dan tidak semua guru mampu melakukannya. Oleh karena itu keberadaan guru yang pofesional sangat diperlukan, guru professional merupakan faktor penentu proses pendidikan dalam tercapainya prestasi belajar seorang siswa.

Hal ini teramati  di SMP Kristen Kotamobagu khususnya untuk tenaga guru mata pelajaran TIK Mengingat pentingnya peran guru pada mata pelajaran tersebut, maka guru tersebut dituntut memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan Teknologi Informasi, agar apa yang diajarkan dapat membuat siswa mengerti dan terampil dalam  mengoperasikan komputer untuk menghasilkan suatu informasi.

Prestasi belajar merupakan hasil yang diperolehsiswa setelah melalui beberapa proses belajar untuk mengertahui sesuatu yang belum diketahuinya, dan hanya dengan belajar siswa akan dapat mengetahui, mengerti, dan memahami sesuatu dengan baik. Prestasi belajar adalah hasil yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu sebagai hasil perbuatan belajar (wuryani, 2002 : 408 ).

Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Teknologi informasi dan komunikasi karena persepsi siswa terhadap potensi guru. Hal ini disebabkan siswa beranggapan guru yang professional memiliki kompetensi tentang kepribadian yang dapat diteladani termasuk sikap tidak arogan, maupun bias bersosialisasi dengan siapapun saja, memiliki kemampuan mengajar (kompetensi pedagogik) yang memadai atau layak mengajar, dan menguasai materi pelajaran sebagaimana diharapkan sebagai seorang guru / pendidik.

Dengan demikian berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas jelas bahwa peran guru yang profesional merupakan faktor yang sangat berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Berkenan dengan hal diatas menarik minat penulis untuk mengadakan penelitian dengan judul “HUBUNGAN PERSEPSI SISWA TERHADAP PROFESIONALISME GURU DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SISWA KELAS VII SMP KRISTEN KOTAMOBAGU”

 

         Landasan Teori

1.Pengertian profesionalisme Guru

            Istilah profesional berasal dari profession, yang mengandung arti sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Maka para profesional adalah para ahli di dalam bidangnya yang telah memperoleh pendidikan atau pelatihan yang khusus untuk pekerjaan itu.

            Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yyang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989).

Istilah profesional pada umumnya adalah orang yang mendapat upah atau gaji dari apa yang dikerjakan, baik dikerjakan secara sempurna maupun tidak. (Martinis Yamin, 2007). Dalam konteks ini bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah guru. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Wina Sanjaya, 2008). Dengan demikian seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru. ”a teacher is person sharged with the responbility of helping orthers to learn and to behave in new different ways” (Cooper, 1990).

Guru professional dituntut memiliki kode etik, yaitu norma tertentu sebagai pegangan yang diakui serta dihargai oleh masyarakat. Kode etik merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku yang dijunjung tinggi oleh setiap anggotanya. Guru memiliki otonomi khusus, dapat mengatur diri sendiri, memiliki sikap mandiri dalam melaksanakan tugas. Membuat keputusan dan dapat mempertanggung jawabkannya.

Pada hakikatnya, pekerjaan guru dianggap sebagai pekerjaan yang mulia, yang sangat berperan dalam pengembangan sumber daya manusia. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka perlu ditekankan bahwa yang layak menjadi guru adalah orang-orang pilihan yang mampu menjadi panutan bagi anak didiknya. Hal ini sesuai dengan hakikat pekerjaan guru sebagai pekerjaan profesional, yang menurut Darling-Hamond & Goodwin (1993) paling tidak mempunyai tiga ciri utama. Ketiga ciri tersebut adalah: (1) penerapan ilmu dalam pelaksanaan pekerjaan didasarkan pada kepentingan individu pada setiap kasus, (2) mempunyai mekanisme internal yang terstruktur, yang mengatur rekrutmen, pelatihan, pemberian lisensi (ijin kerja), dan ukuran standar untuk praktik yang ethis dan memadai; serta (3) mengemban tanggung jawab utama terhadap kebutuhan kliennya.

Berdasarkan definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu keahlian (skill) dan kewenangan dalam suatu jabatan tertentu yang mensyaratkan kompetensi (pengetahuan, sikap dan keterampilan) tertentu secara khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Profesi biasanya berkaitan dengan mata pencaharian seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian, profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan.

Pengertian guru menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni sebagaimana tercantum dalam Bab I Ketentuan Umum pasal 1 ayat (1) sebagai berikut: guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan  dasar dan menegah. Sebagai pendidik, guru harus profesional sebagaimana di tetapkan dalam.

Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasional bab IX pasal 39 ayat 2:
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabidaian kepada mayarakat, terutama bagi pendidikan pada pergurua tinggi.

Menurut Surya (2005), guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya.

Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Seorang guru professional harus memiliki keahlian ketermpilan dan kemampuan sebagai filosofi Ki Hajar Dewantara : “tut wuri handayani ing ngarso sung tu lodo ing madyo mangun kaso”. Tidak cukup dengan menguasai materi pelajaran akan tetapi mengayomi murid menjadi contoh atau teladan bagi murid serta selalu mendorong murid-murid utuk lebih maju. Guru profesional selalu mengembangkan dirinya tehadap pengetahuan dan mendalami keahliannya. Kemudian guru professional rajin membaca literature-literatur dengan tidak merasa rugi membeli buku-buku yang ada kaitannya dengan pengetahuan yang digeluti.

Ada beberapa konsep keterampilan dasar mengajar yang perlu dipertimbangkan sebagai bahan perbandingan dalam membina keterampilan mengajar bagi guru. Yang paling perlu dikaji ialah konsep james cooper et al. Dengan penggolongan keterampilan sebagai berikut :

1). Keterampilan menyusun rencana pengajaran

2). Keterampilan merumuskan tujuan pengajaran

3). Keterampilan menyampaikan bahan pelajaran

4). Keterampilan bertanya

5). Keterampilan tentang menyusun konsep atau persiapan mengajar

6). Keterampilan mengadakan kominikasi interpersonal

7). Keterampilan mengadakan observasi

8). Keterampilan mengadakan evaluasi

Seorang guru dalam proses belajar mengajar atau mendidik dan melatih muridnya harus sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan yang dikuasai diajarkan secara mendalam agar siswa dapat menguasai semua pelajaran yang diberikan. Tidak hanya soal keilmuan yang diperhatikan guru tetapi bekewajiban menjaga siswa-siswanya dalam berbagai hal sehingga murid memiliki perilaku yang terpuji sekaligus menjaga keselamatannya. Dengan demikian pantas membicaakan kebaikan siswanya kepada orang lain ( Mukti, Krishnada wijaya. 322 ).

Dalam kebijakana pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan 4 jenis kompetensi sebagai tercantum dalam penjelasan peraturan pemerintah No.14 Tahun 2005 tentang standard nasionalpendidikan yaitu sebagai berikut :

1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan mengelolah pembelajaran. Ini mencakup konsep kesiapan mengajar yang ditunjukkan oleh penguasaan kesiapan mengajar yang ditunjukkan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengajar. Mengajar merupakan pekerjaan yang kompleks dan sifatnya multidimensional. Kemampuan pedagogic meliputi : (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, (b) pemahaman tahap peserta didik, (c) pengembangan kurikulum / silabus, (d) perancangan pembelajaran, (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, (f) evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan sebagai kompetensi yang dimiliki.

2. Kompetensi Kepribadian   

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan, dan berakhlat mulia. Guru sebagai teladan akan mengubah perilaku siswa, guru adalah panutan. Guru yang baik akan dihormati dan disegani oleh siswa. Jadi guru harus bertekadmendidik dirinya sendiri lebih dahulu sebelum mendidik orang lain. Pendidikan melalui keteladanan adalah pendidikan yang paling efektif. Guru yang disegani, otomatis mata pelajaran yang ia ajarkan akan disegani oleh siswa, dan siswa akan bergairah dan termotivasi sendiri mendalami mata pelajaran tersebut, sebagaimana guru yang dibenci oleh murid, akan tidak senang dengan mata pelajaran yang dipegang oleh guru tersebut, dan membentuk sikap antipasti terhadap mata pelajaran yang dipelajari tersebut. Kompetensi kepribadian meliputi : (a) mantap, (b) stabil, (c) dewasa, (d) arif dan bijaksana (e) berwibawa, (f) berakhlat mulia, (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, (h) menguasai kinerja sendiri, (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.

3. Kompetensi Profesional

Kompetensi professional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, serta metode dan teknik mengajar yang sesuai yang dipahami oleh murid, mudah ditanggap, tidak menimbulkan kesulitan dan keraguan. Kompetensi professional meliputi : (a) konsep struktur dan metode keilmuan/ teknologi/ seni yang koheren dan materi ajar, (b) materi ajar yang ada dlm kurikulumsekolah, (c) hubungan konsep antara mata pelajaranterkait, (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari dan (e) kompetensi secara professional dalam konteks global dan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

4.Kompetensi sosial

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efekti dengan lingkungan sekolah dan diluar lingkungan sekolah. Guru professional berusaha mengembangkan komunikasi dengan orng tua siswa, sehingga terjalin komunikasi dua arah yang berkelanjutan antara sekolah dengan orng tua, serta masyarakat pada umumnya. Kompetensi sosial meliputi : (a) berkomunikasi lisan atau tertulis, (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekita.

          Profesionalisme bukan sekedar menguasai teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi, bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki sesuatu tingkah laku yang sesuai dengan persyaratan.

          Suryadi menyatakan bahwa untuk menjadi professional seorang guru dituntut untuk memiliki hal sebagai berikut :

          1). Guru mempunyai komitmen pada siswa dan PBM.

          2). Guru menguasai secara mendalam mata pelajaran yang diajarkan.

          3). Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar melalui berbagai cara evaluasi.

          4). Guru mampu berpikir secara sistemmatis.

          5). Guru seyogiannya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan   

               Profesi.

2.         Prestasi Belajar

            Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belaja, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat dikemukakan suatu titik persamaan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28)

Secara terminologis, prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya (W.S. Winkel, 1995: 67). Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Jadi, Belajar pada dasarnya merupakan suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang berkat pengalaman dan latihan (M. SuPrestasi belajar merupakan hasil yang diperolehsiswa setelah melalui beberapa proses belajar  belajar untuk mengertahui sesuatu yang belum diketahuinya, dan hanya dengan belajar siswa akan dapat mengetahui, mengerti, dan memahami sesuatu dengan baik. Prestasi belajar adalah hasil yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu sebagai hasil perbuatan belajar (wuryani, 2002 : 408 ). Prestasi belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebutkan hal ini sebagai tendensi keingintahuan dan merupakan kebutuhan umum pada manusia, termasuk kebutuhan anak dalam  suatu program pendidikan (maslow, 1994 : 59 – 62 ). Tingakat prestasi siswa secara umum dapat dilihat pencapaian ( penguasaan ) siswa terhadap materi embelajaran. Apabila bahan ajaran yang diajarkan kurang dari 65% yang dikuasai oleh siswa peserta didik maka preentase keberhasilan siswa pada mata pelajaran tersebut tergolong rendah ( Djamarah, 2000 : 18 ).

            Menurut Slameto ( 1995 : 2 ) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang unruk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai pengamalannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah telah dicapai atau diperoleh siswa berupa nilai mata pelajaran. Ditambah bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.

Setelah menelusuri uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa, setelah mengikuti proses belajar mengajar dala waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang akan diwujudkan dalam angka atau pernyataan.

Sebagaimana sudah seirng kali dikemukakan bahwa proses belajar mengajar merupakan satu-satunya cara untuk mewujudkan pendidikan. Dalam konteks ini, profesionaisme guru menentukan kelancaran proses belajar-mengajar. Pakar pendidikan mengemukakan kelancaran proses belajar-mengajar. Pakar pendidikan Bruce Joyce dan Marshall Weil dalam kerya mereka yang terkenal Models of teaching, mengemukakan 22 belajar mengajar yang diklasifikasikan menjadi empat aspek :

  • Proses informasi
  • Pengembangan kepribadian
  • Interaksi sosial
  • Modifikasi tingkah laku.

            Salah satu aspek penentu prestasi belajar siswa didalam belajar adalah nilai (skor). Nilai (skor) merupakan suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal yang telah dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru, pengertian ini menunjukan bahwa pengukuran bersifat kuantitatif, dengan maksud menentukan luas, dimensi, banyaknya, derajat, atau kesunggupan suatu hal atau benda. Apabila hasil pengukuran itu ditafsirkan, artinya berdasarkan norma-norma dan tujuan tertentu, maka pekerjaan itu ditafsirkan sebagai penilaian.

Penilaian diperoleh melalui evaluasi pengajaran. Evaluasi hasil belajar adalah kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembeajaran yang telah ditetapkan. Proses evaluasi umumnya berpusat pada siswa.  Ini berarti evaluasi dimaksudkan untuk mengamati hasil belajar siswa dan berupaya menentukan bagaimana menciptakan kesempatan belajar. Evaluasi juga dimaksudkan untuk mengamati peranan guru, strategi pengajaran khusus, materi kurikulum, dan prinsip-prinsip belajar, untuk diterapkan pada pengajaran. Tujuan evaluasi untuk memperbaiki pengajaran dan penguasaan tujuan tertentu dalam kelas. (Hamalik : 145-146)

             Proses belajar-mengajar yang merupakan serangkaian kegiatan yang melibatkan guru dan siswa dalam hubungan timbale balik yang berlangsung dalam suasana dan situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi timbal balik antara guru dan murid merupakan syarat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dalam pengertian lebih luas, interaksi sosial pun merupakan proses pendidikan. Dengan demikian, pendidikan tdak hanya merupakan usaha penyampaian materi pelajaran ( proses transfer informasi ), tetapi juga penanaman dan pengembangan sikap serta perilaku para siswa. Penyampaian materi pelajaran banyak menekankan pada sikap serta perilaku pada siswa. Penyampaian materi pelajaran banyak menekakan pada aspek penyampaian pengetahuan ( aspek kognitif ). Usaha membina dan mengembangakan pemahaman terhadap pengetahuan yang disampaikan merupakan aspek afektif. Sedangkan usaha membina perilaku merupakan aspek psikomotorik.

            Untuk meraih prestasi banyak sekali faktor-faktor yang harus diperhatikan. Secara garis besar faktor yang harus diperhatikan. Yang mempengaruhi belajar belajar dan prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal :

1. Faktor Internal

  Merupakan faktor yang berasal dari dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi belajar dan prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :

a). Faktor Fisiologi

b). faktor psikologis

2. Faktor Eksternal

Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal-hal lain diluar diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih. Antara lain adalah :

-   Faktor lingkungan keluarga

a). Sosial ekonomi keluarga

Dengan social ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis, hingga pemilihan sekolah.

b). Pendidikan orang tua

Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.

c). Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berperstasi bagi seseorang. Dukungan ini dapat berupa pujian atau  nasihat: maupun secara tidak langsung, seperti hubungan keluarga yang harmonis.

     - Faktor lingkungan sekolah

     1). Sarana prasarana

      Kelengkapan fasilitas sekolah, seperti papan tulis, OHP akan membantu kelancaran proses belajar mengajar disekolah : selain bentuk ruangan. Sirkulasi udara dan lingkungan sekitar sekolah juga dapat mempengaruhi proses belajar mengajar.

     2). Kompetensi guru dan siswa

       Kualitas guru dan siswa sangat penting dalam meraih prestasi, kelengkapan sarana dan prasarana tanpa disertai kinerja yang baik dari para penggunanya akan sia-sia belaka. Bila seorang siswa merasa kebutuhannya untuk berprestasi dengan baik disekolah terpenuhi, misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik yang berkualitas yang dapat memenuhi rasa ingin tahunya, hubungan dengan guru dan teman-temannya berlangsung harmonis maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan.

     3). Kurikulum dan metode mengajar

       Hal ini meliputi materi dan bagian cara memberikan materi tersebut kepada siswa. Metode pembelajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran.

- Faktor lingkungan masyarakat

     1). Sosial dan budaya

     2). Partisipasi terhadap pendidikan

- Pengukur prestasi belajar

  Dalam dunia pendidikan, menilai merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan. Menilai merupakan salah satu proses belajar dan mengajar. Di Indonesia, kegiatan menilai prestasi belajar bidang akademik disekolah-sekolah dicatat dalam sebuah buku laporan yang disebut rapor. Dalam rapor dapat diketahui sejauhmana prestasi belajar seorang siswa, apakah siswa tersebut berhasil atau gagal dalam suatu mata pelajaran. Didukung oleh pendapat sumadi duryabrata (1998 : 296) merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar murid-murid selama masa tertentu.

METODE PENELITIAN

A.  Tempat dan Waktu Penelitian

            Penelitian ini dilaksanakan di SMP Kristen Kotamobagu. Adapun kegiatan sehubungan dengan persiapan, pengumpulan data dan penulisan laporan penelitian ini direncanakan pada semester genap tahun 2012.

B. Jenis Penelitian

            Penelitian ini adalah penelitian korelasional dengna variabel-variabel sebagai berikut :

            X = Persepsi Siswa Terhadap Profesionalisme Guru

            Y = Prestasi Belajar Siswa

 

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

1. Persepsi Siswa

Data variable persepsi siswa menunjukkan bahwa skor tertingggi adalah 83 dan skor terendah adalah 60. Berdasarkan data tersebut juga didapat harga modus sebesar 70.00,median 71.0000,harga rata-rata 70.5250 dan simpang baku 3.51836. Distribusi frekuensi disajikan dalam table 2. Dan histogramnya pada gambar.2

 

Tabel Distribusi Frekuensi Data Persepsi Siswa (X)

 

2.      Prestasi Belajar.

Data variabel hasil belajar menunjukkan bahwa skor tertinggi adalah 83 dan skor terendah adalah 66. Berdasarkan data tersebut juga didapatkan harga modus sebesar 74.00,median74.4000,harga rata-rata 73.3000 dan simpangan baku 3.31430. Distribusi frekuansi disajikan dalam table 3. Dan histogramnya pada gambar.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar


 Pengujian Persyaratan Analisis galat taksiran regresi Y atas X

Pengujian normalitas dilakukan terhadat galat taksiran Y artas X yang merupakan selisi Y-  nya. Hipotesis pengujian adalah sebagai berikut :

H0 : Y-  berdistribusi normal.

H1 : Y-  tidak berdistribusi normal.

Teknik yang digunakan dalam pengujian ini adalah uji normalitas kolmogorov smirnov. Kriteria pengujian adalah diterima H0 bila haraga D maksimum lebih kecil dari pada D tabel (Dmax < Dtabel) pada taraf signifikansi 5%. Harga D tabel dengan N = 40 dengan taraf signifikansi 5% adalah D = 0.21.

Dari hasil perhitungan galat taksiran regresi Y atas X diperoleh harga Dmax  0.115. bila dibandingkan harga D tabel sebesar 0.21 pada taraf signifikansi 5% dan n = 40, ternyata ρρDmax <  Dtabel demikian hipotesis pengujian H0 diterima. Dapat disimpulkan bahwa galat taksiran Y-  berdasarkan regresi  = 61.63 + 0.166X, berdistribusi normal.

 

B.Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap profesionalisme guru mempunyai hubungan yang signifikan dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi di SMP Kristen Kotamobagu. Artinya, bahwa semakin baik persepsi siswa terhadap guru, semakin baik pila hasil belajarnya. Ini adalah hal yang wajar, sebab bilamana seseorang mempunyai penilaian positif terhadap suatu objek, maka ia akan cenderung menyukai objek tersebut bahkan berusaha untuk mendapatkannya.

Seperti yang di ungkapkan oleh slameto bahwa persepsi adalah proses masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi mausia teru-menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan itu dilakukan lewat inderanya yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasaan dan penciuman. Jadi, adalah benar jika hasil penelitian ini mengungkan bahwa persepsi terhadap guru ikut menentukan keberhasilan belajar siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan hasil belajar dengan persepsi siswa merupakan hubungan yang linier dan sangat signifikan dengan persamaan regresi  = 61.63 + 0.166X. kekuatan hubungan kedua variabel ditujukkan dengan korelasi ryx = 0.42 sangat signifikan dan positif. Dengan demikian hasil penelitian ini dapat di pahami bahwa persepsi siswa sangat positif mempengaruhi hasil belajar siswa. Persepsi siswa yang baik akan menghasilkan hasil belajar yang rendah. Oleh sebab itu untuk meningkatkan hasil belajar yang, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah meningkatkan persepsi siswa.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan Penelitian

Dari hasil penelitian, maka penelitian dapat mengambil kesimpulan yaitu sebagai berikut :

Terdapat hubungan positif antara persepsi siswa terhadap guru dan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Kristen Kotamobagu. Hubungan tersebut juga berbanding lurus dan sangat berarti, menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap guru mempengaruhi prestasi belajar siswa akan tinggi, begitu pula sebaliknya jika persepsi siswa terhadap guru rendah maka prestasi belajar siswa rendah pula.

 

B.Saran

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka penelitian mengemukakan saran-saran sebagai berikut :

  1. Siswa sebaiknya memiliki persepsi yang baik terhadap gurunya, karena semakin baik persepsi yang dimiliki oleh siswa maka hasil belajarnya semakin baik dan sebaliknya.
  2. Guru-guru yang mengajar pada mata pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi di SMP Kristen Kotamobagu  lebih memperhatikan siswa dalam proses belajar-mengajar, menggunakan metode mengajar yang tepat, membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan sebagainya sehingga siswa memiliki persepsi yang baik terhadap gurunya.
  3. Guru pada mata pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi di SMP Kristen Kotamobagu harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Teknologi Komunikasi Dan Komunikasi sehingga membuat siswa lebih mengerti dan terampil dalam mengoperasikan komputer

 

DAFTAR PUSTAKA

Aqib. Z. 2002. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Insanan cendekia. Surabaya

Hamalik. O. 2004. Metode Pembelajaran dan Kesulitan Belajar. Tarsito. Bandung

Hamalik . Oemar. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi , Jakarta

         PT.Bumi Askara,2006, Cet, ke-4

Mardalis. 2002. Metode Penelitian. Jakarta : Bumi askara

Nasutio (1996) Prestasi Belajar. Yokyakarta : Pustaka Belajar

Poerwardarminto, W.J.S,1988. Kamus umum bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Prof. Dr. H. Buchari Alma, Mpd.dkk. Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampil

        Mengajar. Bandung

Sudjana. 1992. Metode Statistika. Bandung : Tarsito

Sudjana. N. 2001. Penelitian Proses Hasil Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosdakarya.

          Bandung

Tu’u. 2004. Peran Disiplin Dan Prestasi Belajar Siswa. Grasindo. Jakarta

Zainal Aqib. 2002. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya

         Penerbit Insan Cendekia.

 

 

 

 


Dibaca: 847 kali