Senin, 06 Mei 2013 - 15:42:11 WITA

Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalahdalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran KKPI Di SMK Kristen 3 Tomohon

 

Penulis : Marco Maekel Laluan

NIM : 08 311 425

maekel.nelwan@gmail.com


ABSTRAK

Dosen Pembimbing: Drs. J. T. Togas, MSEEdan Drs.Ir.V.R.Palilingan, M.Eng 

Pada Pembelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI)kelas 10 Jasa Boga (X JB) siswa kurang mampu berpikir kritis dalam menganalisa kasus yang terjadi dimasyarakat. Maka diperlukan model pembelajaran yang mampu meningkatkankemampuan berpikir kritis siswa.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan modelpembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran KKPIkelas X JB SMK Kristen 3 Tomohon untukmengetahui hasil peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa serta factorpendorong dan penghambat dalam penerapan model pembelajaran berbasismasalah.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitianPenelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kurt Lewin dengan 3 (tiga) siklus.Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X JB SMK Kristen 3 Tomohon. Teknikpengumpulan data yang digunakan adalah observasi, evaluasi hasil belajar, wawancara, dokumentasi dan angket. Data yang bersifat kualitatif yang terdiridari hasil observasi dan dokumentasi dianalisis secara deskriptif kualitatif, datayang berupa angka atau data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisisdeskriptif kuantitatif.

Hasil analisis data setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa padamata pelajaran KKPI Kleas X JB SMK Kristen 3 Tomohon. Secara klasikalterjadi peningkatan sebesar 13% pada siklus I dan 6% pada siklus II. Peningkatankemampuan berpikir kritis siswa secara individu sebesar 6% pada siklus 1, 6%pada siklus II dan sebesar 3% pada siklus III.Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa penerapanmodel pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikirkritis siswa pada mata pelajaran X JB SMK Kristen 3 Tomohon.Untuk itu, saran yang disampaikan agar dapat menerapkan model pembelajaranberbasis masalah yang lebih bervariasi dan dapat dijadikan kajian untukpenelitian tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap variabel yang lain.

 

Kata Kunci:   Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah,

Kemampuan Berpikir Kritis, KKPI

 

 

Pendahuluan

Pembangunan Nasional di bidang pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan merupakan upaya yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dilakukan untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Sumber daya yang berkualitas akan menentukan mutu kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa dalam rangka mengantisipasi, mengatasi persoalan-persoalan, dan tantangan-tantangan yang terjadi dalam masyarakat pada kini dan masa depan.

Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menigkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lain, dan peningkatan mutu manajemen sekolah, namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang memadai.

Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu “mengerjakannya”, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.Berdasarkan faktor karakteristik siswa, daya dukung SMK Kristen 3 Tomohon dan kondisi lingkungannya maka pembelajaran yang sesuai dengan faktor-faktor tersebut yaitu pembelajaran berbasis masalah karena strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah/kasus nyata di kehidupan sehari-hari sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Standar Isi 2006 siswa dituntut agar dapat kreatif dan mampu mengembangakan kemampuan berfikir kritis dalam menghadapi pelajaran juga dalam menghadapi masalah-masalah yang sedang terjadi saat ini. Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan dalam pembelajaran karena siswa didorong untuk mencari dan menemukan pengetahuan baru yang melibatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran (student oriented) dan guru sebagai fasilitator.

Berdasarkan karakteristik peserta didik, daya dukung sekolah, lingkungan sekolah serta dengan adanya wawancara dengan guru KKPI kelas X JB, maka model pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan di SMK Kristen 3 Tomohon. Dengan penerapan model ini diharapkan siswa mampu untuk berpikir kritis dalam memecahkam berbagai permasalahan yang terkait dengan mata pelajaran KKPI yang membutuhkan pemikiran kritis dalam menganalisa permasalahan yang sedang terjadi saat ini serta membantu siswa menjadi pelajaryangmandiri.

Deskripsi Teori

  1. 1.    Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Wikipedia, pengertian pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

 

  1. 2.    Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan salah satu komponen utama dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM). Model pembelajaran yang menarik dan variatif akan berimplikasi pada minat maupun motivasi peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Dengan penerapan kurikulum KTSP dan tuntutan untuk mengembangkan model pembelajaran kreatif maka Guru harus pula mampu mengikuti tuntutan perkembangan dunia pendidikan terkini. Guru harus berani berinovasi dan beradaptasi dengan metode pembelajaran PAIKEM seperti Talking Stick, Example non Example, Think Pair Share dan tidak hanya terpaku pada Metode Ceramah saja. Untuk memperjelas mengapa model pembelajaran perlu dikembangkan secara berkesinambungan, kita harus kembali pada  pengertian model pembelajaran  secara umum.

  1. 3.    Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah adalah sebuah metodologi instruksional yang menggunakan dunia nyata konteks untuk investigasi mendalam dari materi pelajaran. Kegiatan pembelajaran berbasis masalah dimulai dengan penyelesaian masalah yang berfungsi sebagai batu loncatan untuk keterlibatan kelompok.

Dalam kursus ini, penyelesaian masalah yang termasuk dalam skenario dan situasi yang terfokus di sekitar peristiwa lingkungan. Skenario pembelajaran berbasis masalah dan situasi mengandung isu-isu yang kompleks, konflik, teka-teki, keputusan, atau keadaan dari dunia nyata, pengalaman yang membutuhkan baik keterampilan dasar dan penyelidikan, pengumpulan informasi, dan refleksi seperti harus mengangkat pertanyaan-pertanyaan berikut:

Apa yang Anda tahu?

Apa buktinya

Apa argumen yang menafsirkan bukti?

Apakah ada penjelasan alternatif atau cara yang lebih baik untuk menjelaskan situasi dan memecahkan masalahnya?

.

  1. 4.      PengertianBerpikirKritisSiswa.

Menurut R.H. Ennis (1991) berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Mengetahui kecenderunagn dan kemampuan sangat penting supaya seorang menjadi pemikir yang kritis. Hal ini akan membantu menyadari tentang disposisi dan kemampuan tersebut dehingga dapat dipastikan ia dapat menerapkan pola berpiir kritis di dalam kelas atau kehidupan sehari-hari.

 

  1. 5.      Pengertian KKPI

KKPI adalah singkatan dari Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi. KKPI adalah salah satu mata pelajaran adaptif yang diberikan kepada semua bidang keahlian di Sekolah Menengah Kejuruan (Kurikulum SMK, 2004). Sedang pada SMU dan SMP dikenal dengan nama mata pelajaran TIK. Mata pelajaran ini sebagai dasar pengetahuan teknologi informasi, dengan demikian generasi masa depan dapat mengikuti derap perkembangan global. KKPI sebagai upaya agar setiap insan anak bangsa "melek teknologi dan melek informasi".

  1. 6.      DeskripsiUmum KKPI

Agar generasi masa depan dapat mengikuti perkembangan global, kita harus mengupayakan agar setiap insan anak bangsa dapat mengolah informasi. Oleh karena itu mereka perlu dibekali dengan kemahiran minimal, yaitu mengoperasikan komputer untuk ‘mengelola’ informasi.

KKPI adalahkemampuan minimal yang harusdibekalkankepadaInsan Indonesia (siswa SLTA atausederajat) agar mampumenggunakankomputersebagaialatbantuuntukmengelolainformasi.

 

 

MODEL PENELITIAN

  1. A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kelas, karena dalam melakukan tindakan kepada subyek penelitian yang sangat diutamakan adalah mengungkap makna, yaitu makna dan proses pembelajaran sebagai upaya meningkatkan motivasi, kegairahan dan prestasi belajar melalui tindakan yang dilakukan.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas atau PTK. PTK merupakan suatu kajian yang bersifat selektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya.

Desain penelitian yaitu menggunakan model Kurt Lewin. Konsep pokok penelitian Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c) pengamatan (observing) dan d) refleksi (reflecting).

  1. B.     Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di:

Sekolah      : SMK Kristen 3 Tomohon

Alamat      : Jalan Tondano-

Tomohon

                  Kota Tomohon

Kelas         : X JB

Semester    : Genap

Tahun Ajaran : 2011/2012

Maka peneliti dan guru mata pelajaran KKPI kelas X JB sepakat bahwa penelitian ini akan dilaksanakan di kelas X JB. Karena X JB (dengan jumlah siswa 38 orang) merupakan kelas yang unggul diantara kelas yang lainnya. Akan tetapi dalam proses pembelajaran mata pelajaran KKPI, kelas X JB memiliki pemasalahan diantaranya siswa hanya terpaku dengan materi pelajaran saja dan kurang mampu menganalisis permasalahan nyata yang berkaitan dengan materi pelajaran siswa sehingga kemampuan berpikir siswa terhadap fenomena yang terjadi saat ini menjadi kurang. Oleh karena itu perlu suatu stimulus berupa masalah yang berkaitan dengan konteks dunia nyata untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

  1. C.    Variabel Penelitian

Variabel yang diselidiki ini merupakan variabel-variabel yang dijadikan titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut meliputi:

  1. Variabel input, yakni suatu variabel yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, lingkungan belajar.
  2. Variabel proses, merupakan variabel yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar yaitu penerapan model pembelajaran berbasis masalah
  3. Variabel output merupakan variabel yang terkait dengan hasil yang diharapkan yaitu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
  4. D.    Rencana Tindakan
  1. Perencanaan Tindakan

Perencanaan merupakan persiapan yang dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang meliputi:

  1. Memilih lokasi penelitian dengan penuh pertimbangan.
  2. Mengurus perijinan secara formal.
  3. Melakukan observasi awal untuk menyesuaikan antara peneliti dengan keadaan lingkungan sekolah, diskusi dengan guru mata pelajaran KKPI kelas  X JB serta siswa SMK Kristen 3 Tomohon selaku obyek penelitian.
  4. Menentukan masalah yang urgen/penting dan menentukan kelas yang akan dijadikan penelitian serta merencanakan tindakan perbaikan.
  5. Mengidentifikasi masalah yang terjadi dan mengkaitkannya dengan SK, KD
  6. Menyiapkan perangkat dalam memfasilitasi pembelajaran berbasis masalah melalui RPP, panduan observasi, tes atau evaluasi pembelajaran, angket umpan balik siswa terhadap pembelajaran, serta pedoman wawancara
  1. Implementasi Tindakan

Dalam implementasi ini meliputi penjabaran tindakan yang akan dilaksanakan berdasarkan RPP yang sudah dibuat, dengan melaksanakan langkah-langkah pembelajaran dan model pembelajaran yang digunakan serta skenario kerja tindakan perbaikan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan. Dengan menggunakan bentuk media pembelajaran berupa pemberian masalah nyata yang sesuai dengan SK,KD. Pada tahap ini peneliti atau guru melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah sekaligus mengamati kejadian selama proses belajar berlangsung.

  1. Observasi dan Interprestasi

Kegiatan ini merupakan kegiatan pengumpulan data yaitu ketika pengamatan berlangsung, peneliti mengumpulkan data proses pembelajaran yang meliputi: Proses Tindakan (aktivitas guru, aktivitas siswa, interaksi siswa dengan guru, interaksi siswa dengan siswa, interaksi siswa dengan bahan ajar, interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya, atau semua fakta yang ada selama proses pembelajaran berlangsung), pengaruh tindakan, keadaan dan kendala tindakan, kendala dan pengaruhnya terhadap yang direncanakan, persoalan yang timbul. Kegiatan ini merupakan dasar untuk melakukan refleksi.

  1. Analisis dan Refleksi

Kegiatan ini dilakukan berdasarkan observasi dan intterpestasi yang dilakukan. Kegiatan refleksi ini merupakan kegiatan merenungkan atau menghubungkan kejadian dalam interaksi dengan mengidentifikasi apa yang terjadi dalam pembelajaran tersebut dan bagaimana hasilnya, memahami persoalan, proses, masalah yang terjadi dan kendalanya. Pada tahap ini kegiatan difokuskan pada upaya untuk menganalisis, mensintesis, memaknai, menjelaskan dan menyimpulkan. Persoalan pembelajaran yang dilakukan.

  1. E.     Teknik Pengumpulan Data
  1. Model Observasi.

Model observasi merupakan suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang standar.

Dalam pengumpulan data melalui observasi ini instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah pedoman observasi yang berisi daftar jenis kegiatan atau keadaan yang ingin diteliti. Hal ini dipertegas oleh Suharsimi Arikunto bahwa model ini merupakan observasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instruman pengamatan.

  1. Evaluasi Hasil Belajar

Data yang telah diperoleh dilapangan akan diukur oleh peneliti dengan membandingkan hasil evaluasi pembelajaran setiap siklus. Evaluasi adalah suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan apakah proses dalam pengembangan ilmu telah berada dijalan yang diharapkan.

  1. Model Wawancara.

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat atau panduan wawancara.

Wawancara yang peneliti gunakan bertujuan untuk mengetahui secara mendetail tentang pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

  1. Model Dokumentasi.

Model dokumentasi adalah mencari data mengenal hal-hal atau variable yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku, surat kabar, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya

Adapun dokumen-dokumen yang dimaksud adalah berupa data-data yang diperlukan antara lain tentang latar belakang SMK Kristen 3 Tomohon yang meliputi: sejarah berdirinya, letak geografis, visi dan misi, keadaan guru dan staf, keadaan siswa-siswi, hasil evaluasi atau prestasi belajar siswa, struktur organisasi serta keadaan sarana dan prasarana di SMK Kristen 3 Tomohon.

  1. Angket

Model angket atau Questionaire adalah alat penelitian berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden. Angket digunakan peneliti untuk mendapatkan data tentang tanggapan siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah yang dilakukan untuk digunakan sebagai paparan data setelah tindakan.

 

  1. F.     Teknik Analisa Data

Data yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan dianalisis untuk memastikan bahwa dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada pada mata pelajaran KKPI dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X JB di SMK Kristen 3 Tomohon. Data yang dikumpul peneliti dari jenis data yang bersifat kualitatif  kemudian dianalisis. Teknik analisa data terdiri dari 3 pokok, yaitu :1) reduksi data, 2) penyajian data, 3) penarikan kesimpulan.

  1. Reduksi data adalah proses pemilahan data yang akan digunakan itu relevan atau tidak serta pengolahan data kasar langsung dari lapangan. Data yang diperoleh antara data siklus I dipisah dengan data siklus II maupun data siklus III. Pemilahan data tersebut dilakukan bertujuan untuk memudahkan dalam penyajian data dan pengumpulan, sehingga hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang terjadi pada kegiatan penelitian pada setiap siklus.
  2. Penyajian data dilakukan dengan menyusun sekumpulan informasi yang diperoleh sehingga dapat menarik kesimpulan.
  3. Penarikan kesimpulan dilaksanakan setelah proses klasifikasi dan penyajian data. Penyimpulan sebagai penafsiran data diawali masingmasing siklus, berlanjut dengan penyimpulan akhir sebagai penafsiran terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Sedangkan data yang dikumpulkan berupa angka atau data kuantitatif, cukup dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan sajian visual. Sajian tersebut untuk menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan, dan atau perubahan karah yang lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Untuk evaluasi hasil belajar sesuai dengan indikator yang telah ditentukan, ditetapkan batas minimal keberhasilan belajar siswa selama kegiatan belajar mengajar. Untuk menilai indikator kemampuan berpikir kritis siswa dapat melalui pembelajaran secara berkelompok dan evaluasi individu. Kemampuan berpikir kritis secara berkelompok meliputi kerjasama, kemampuan menganalisa permasalahan atau kasus, presentasi hasil kelompok, dan hasil kerja kelompok atau laporan. Sedangkan indikator kemampuan berpikir kritis siswa secara individu melalui tes evaluasi dan angket kemampuan berpikir kristis melalui pembelajaran berbasis masalah.

Untuk mengetahui nilai dari indikator keberhasilan kemampuan berpikir kritis secara berkelompok maka menggunakan rumus:

Kriteria ketuntasan minimal apabila nilai evaluasi siswa diatas KKM yaitu 70. Dan untuk menilai prosentase ketuntasan pembelajaran berbasis masalah secara individu melalui rumus:

Untuk mengetahui perubahan hasil tindakan siklus I ke siklus II dan siklus III, yang didapatkan dari hasil evaluasi dianalisis menggunakan rumus:

Keterangan:

P = Presentase Peningkatan

Post rate          = Nilai rata-rata sesudah

                        tindakan

Base rate         = Nilai rata-rata sebelum

tindakan

 

  1. A.    Indikator Kinerja

Tahap ini merupakan tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan yang ditetapkan secara eksplisit, sehingga memudahkan verifikasinya. Selain itu indikator ini menunjukkan bahwa apakah siklus penelitian tindakan kelas ini perlu diperpanjang atau tidak. Adapun indikator keberhasilan yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu dengan melakukan evaluasi hasil belajar siswa.  Indikator kinerja yang digunakan untuk menentukan keberhasilan pelaksanaan strategi pembelajaran adalah dua kriteria yaitu indikator kualitatif dan indikator kuantitatif. Indikator keberhasilan model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran KKPI kelas X JB meliputi:

  1. Indikator kualitatif, dengan melihat antusias siswa dalam selama proses pembelajaran dan dilihat dari umpan balik siswa setelah kegiatan pembelajaran berlangsung yang berupa
  2. ungkapan perasaan mereka selama mengikuti pembelajaran dan manfaat apa yang telah diperoleh setelah pembelajaran tersebut
  3. Indikator kuantitatif, keberhasilan dalam penelitian berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sebagai kriteria keberhasilan dari pelaksanaan PTK dan dilihat dari aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung dan berakhir. Indikator berdasarkan nilai ratarata secara berkelompok dan tes evaluasi individu minimal 70%, sedangkan berdasarkan aspek ketuntasan minimal 80% .

 

HASIL PENELITIAN DANPEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian mulai dari siklus I sampai siklus III menunjukkan  terjadi  peningkatan  kemampuan berpikir kritis  siswa baik secara individu maupun secara kelompok yang diketahui berdasarkan lembar  observasi siswa yang diperoleh pada saat pembelajaran berlangsung. Untuk mengetahui adanya peningkatan  kemampuan berpikir kritis  siswa  yang diperoleh dari peningkatan  baik  rata-rata nilai  dan prosentase ketuntasan belajar  yang diperoleh dari tindakan siklus I sampai siklus III,  dan adanya angket umpan balik siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah.  Dapat dilihat dari hasil observasi proses pembelajaran berbasis masalah pada siklus I sampai III.

Pada siklus I ini belum mendapatkan hasil yang diharapkan,dari hasil pretest menunjukkan  bahwa  siswa yang mencapai ketuntasan dalam belajar adalah 3 siswa dari 7 siswa atau 40 %, sedangkan 4 siswa atau 60 % siswa belum  tuntas.  Sedangkan nilai rata-rata yang diperoleh adalah 67. Setelah menggunakan pembelajaran berbasis masalah maka terjadi peningkatan sebesar 6%,  Berdasarkan  tabel  observasi  kemampuan berpikir kritis  siswa secara kelompok  diatas maka  dapat diketahui bahwa  pada aspek kerjasama hanya 65% siswa yang mampu bekerjasama dengan baik sedangkan dalam menganalisa kasus,  siswa juga masih tergolong rendah yaitu 58%, dalam melakukan presentasi, masih 65% siswa yang mampu menyampaikan hasil diskusinya dengan baik serta  dalam menjawab pertanyaan masih kurang mampu menjawab dengan baik sedangkan dilihat dari hasil laporan yang dibuat siswa, hanya 66% siswa yang mampu membuat laporan secara baik dan sistematis, dan secara klasikal hanya 66% siswa yang mampu berpikir kritis  dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah secara berkelompok.  Berdasarkan  hasil evaluasi secara individu  diketahui bahwa hanya 40% siswa yang tuntas dalam belajar dan mampu menganalisa kasus dengan baik sedangkan 60% siswa masih kurang mampu dalam menganalisa kasus dan belum tuntas dalam pembelajaran berbasis masalah sedangkan target ketuntasan  yang diharapkan  yaitu  80%. Berdasarkan analisis tersebut maka siklus dilanjutkan ke siklus II. 

Siklus II  terjadi peningkatan pada aspek kerjasama sebesar 10% dari siklus sebelumnya dan siswa sudah mulai mampu bekerjasama dengan baik sedangkan dalam menganalisa kasus siswa juga mengalami kenaikan sebesar  7% dari siklus sebelumnya dan dalam melakukan presentasi, terjadi kenaikan sebesar 5% dan siswa sudah mulai mampu menyampaikan hasil diskusinya dengan baik serta dalam menjawab pertanyaan, sedangkan dilihat dari hasil laporan yang dibuat siswa, hanya 78% siswa sudah mampu membuat laporan secara baik dan sistematis, dan secara klasikal hanya 60% siswa yang telah mampu berpikir kritis dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah secara berkelompok,  akan tetapi hal ini masih dibawah ketuntasan yang diharapkan yaitu diatas 80%. Maka diadakan siklus lanjutan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan nilai rata-rata  evaluasi, terjadi peningkatan nilai rata-rata  yaitu 71 maka telah terjadi peningkatan sebesar 5% dari siklus I . Siswa sudah mulai mampu untuk menganalisa kasus dengan baik hal tersebut terlihat dari prosentase ketuntasan pada siklus II sebesar 60% hal ini berarti terjadi kenaikan sebesar 20% dari ketuntasan siklus I akan tetapi kenaikan tersebut masih belum mencapai  target ketuntasan yang diharapkan yaitu 80% hal ini berarti pembelajaran belum memenuhi kriteria ketuntasan  yang ingin dicapai oleh karena itu maka diperlukan siklus lanjutan dengan mengadakan perbaikan baik dari segi perencanaan pelaksanaan maupun evaluasi pembelajaran. 

Pada siklus III Siswa sudah mampu untuk mengemukakan pendapat dan penjelasan tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan  serta  siswa sudah mampu untuk  mendefinisikan  masalah  dan  mendiagnosis  masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah,  siswa telah mampu  menganalisis  berbagai  faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah, selain itu siswa  juga mampu  mengurutkan tindakan-tindakan prioritas  yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis hambatan yang diperkirakan,  merumuskan alternatif strategi  serta  menentukan  dan menerapkan strategi pilihan  dan pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan sehingga siswa mampu memecahkan permasalahan dan mengemukakan solusi yangtepat dari permasalahan tersebut. Keberhasilan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat diketahui dari peningkatan siklus II ke siklus III.  Dalam aspek kerjasama 83% siswa telah mampu bekerjasama dengan baik, 90% siswa telah mampu menganalisa dengan baik. Dalam melakukan presentasi 90% siswa sudah lancar dalam menyampaikan hasil diskusi serta mampu menjawab pertanyaan dengan baik dan hasil laporan siswa  82% siswa sudah mampu membuat laporan yang sistematis, terstruktur dan menyertakan referensi yang mendukung laporan. Sehingga secara klasikal  90% siswa telah mampu untuk berpikir kritis dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah secara berkelompok. Berdasarkan nilai rata-rata  evaluasi pada siklus III siswa telah mampu untuk berpikir kritis dalam menganalisa kasus maupun memahami materi hal tersebut dilihat dari peningkatan nilai rata-rata  sebesar 6% dari siklus I, sedangkan  berdasarkan prosentase ketuntasan, pada siklus III sebesar 82% hal ini  menunjukkan  terjadi kenaikan sebesar 11% dari ketuntasan siklus II. Maka dapat diketahui bahwa pada siklus III ini sudah memenuhi kriteria ketuntasan yang diharapkan  yaitu 80%  oleh karena itu maka siklus pembelajaran berbasis masalah dihentikan.

Berdasarkan frekuensi terbesar dari hasil angket dapat diketahui bahwa bahwa siswa telah mampu untuk; berusaha memahami  artikel atau permasalahan  yang difasilitasi oleh guru dalam pembelajaran berbasis masalah, memilah informasi yang diterima sehingga siswa tidak  menerima informasi  begitu saja  tanpa mengetahui dasarnya  atau sumbernya, mengembangkan  informasi yang diberikan /disampaikan,  menyebutkan contoh-contoh yang berbeda dari yang sudah ada,  berani berbicara untuk menyampaikan pendapat  dan bertanya tentang apa yang belum jelas, menguatkan pendapatnya dengan bukti atau referensi yang berhubungan dengan permasalahan,  berani  untuk meminta klarifikasi ketika  siswa  belum jelas terhadap apa yang telah disampaikan,  bersikap sopan santun ketika berbicara dan mampu mengendalikan emosi apabila ada pendapat yang berbeda dengan pendapatnya,  mencari dan memaparkan hubungan antara kasus/masalah dengan materi pelajaran yang relevan.

Respon siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah berdasarkan fekuensi terbesar hasil angket menunjukkan bahwa siswa sudah memahami materi pembelajaran dengan adanya masalah / berita yang terkait dengan materi pelajaran. Semua siswa atau 100% siswa setuju bahwa dengan adanya adanya pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran KKPI telah  membuat siswa lebih paham mengenai standart kompetensi  Mengoperasikan software spreadsheet. Siswa telah mampu memahami kasus yang terjadi sekarang ini dan mampu menggabungkan dengan materi yang dipelajari dan dengan adanya pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran  KKPI  membuat siswa mendapat pengetahuan baru selain melalui buku.

Dari hasil analisis pembelajaran  KKPI  dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah maka dapat dilihat  secara keseluruhan terjadi  peningkatan kemampuan berpikir kritis  yang memuaskan, dimana dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis  pada mata pelajaran  KKPI di SMK Kristen 3 Tomohon.

 

Kesimpulan

Penerapan model pembelajaran pembelajaran berbasis masalah  pada mata pelajaran  KKPI kelas X di SMK Kristen 3 Tomohon dapat disimpulkan secara keseluruhan terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis yang memuaskan. Hal  tersebut terlihat dari adanya peningkatan pada setiap siklus penelitian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kurt Lewin dengan 3 (tiga) siklus.  Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X JB  di SMK Kriten 3 Tomohon. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, evaluasi hasil belajar, wawancara, dokumentasi dan angket.  Data yang bersifat kualitatif yang terdiri dari hasil observasi dan dokumentasi dianalisis secara deskriptif kualitatif, data yang berupa angka atau data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan  analisis deskriptif kuantitatif  . Hasil analisis data setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah  menunjukkan bahwa terjadi  peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran KKPI kelas X di SMK Kristen 3 Tomohon . Secara klasikal terjadi peningkatan sebesar 13% pada siklus I dan 6% pada siklus II. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa secara individu sebesar 6% pada siklus 1, 6% pada siklus II dan sebesar 3% pada siklus III. 

 

Saran 

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan:

  1. 1.      Bagi Sekolah

Agar penerapan pembelajaran melalui metode  pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dapat diterapkan di dalam KBM khususnya pada mata pelajaran  KKPI, karena berdasarkan hasil penelitian terbukti dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa

  1. 2.      Bagi Guru KKPI

Agar dalam penerapan Metode pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning)  benar-benar diefektifkan sesuai dengan prosedur  Metode pembelajaran berbasis masalah  (Problem Based Learning)  agar siswa terbiasa dan lebih mudah dalam memahami, menganalisa dan memecahkan kasus berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat. Penggunaan media belajar yang bervariasi berupa simulasi, stimulus belajar dengan meberikan hadiah  (reward), serta pemberian motivasi  agar siswa lebih bersemangat dalam proses pembelajaran. 

 

 

  1. 3.      Bagi Siswa

Agar penerapan pembelajaran melalui metode Inquiry lebih efektif maka dalam aktivitas belajarnya siswa diharapkan lebih teliti dalam menganalisa kasus dan mencari sumber yang relevan, serta selalu antusias dalam kegiatan belajar mengajar baik secara individual ataupun kelompok lebih berusaha membiasakan mengemukakan pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan serta membiasakan kerjasama dengan teman kelompoknya.

  1. 4.      Bagi Penulis

Memberikan wawasan dan pengalaman praktis di bidang penelitian sebagai bekal untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional.

  1. 5.      Bagi Penelitian Lebih Lanjut

Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan ini dapat dipergunkan penelitian lebih lanjut sebagai kajian untuk diadakannya penelitian tentang penerapan metode  pembelajaran berbasis masalah terhadap variabel yang berbeda. Pelaksanaan model pembelajaran pembelajaran berbasis masalah hendaknya dibuat lebih variatif lagi.

 

Daftar Pustaka 

Arikunto, Suharsimi. 2002.  Prosedur

Penelitian:Suatu Pendakatan

Praktek.  Jakarta. Rineka Cipta.

http://www.scribd.com/doc/91809892/arikunto-suharsimi-2002-prosedur-penelitian-suatu-pendekatan-praktek-edisi-revisi-iv-jakarta-rineka-cipta

03/21/2013

 

Cooperative learning series Problem-

based learning

http://www.studygs.net/pbl.htm

03/22/2033

 

Darsono, Max, dkk. 2000. ”Belajar dan

Pembelajaran”.

http://www.m-edukasi.web.id/2012/11/pengertian-belajar.html

03/21/2013

 

Desain PTK model Kurt Lewin

http://www.m-edukasi.web.id/2012/05/desain-ptk-model-kurt-lewin.html

03/22/2033

Dr.De Gallow.Director, Instruction

Resources Center, Projet Direktory, Hewlett Grant

http://www.pbl.uci.edu/whatispbl.html

03/22/2033

 

Dr. Wahid Murni, M.Pd.,Dosen Fakultas

Tarbiyah Universitas Islam Negeri (Uin) Malang

http://www.scribd.com/doc/51720362/ptk-revisi-1107-dr-wahid-murni-mpd-ak2

03/22/2013

 

Dr. H. Nur Ali, M.Pd Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (Uin) Malang

http://www.academia.edu/1401525/penerapan_multi_metode_dalam_meningkatkan_motivasi_dan_prestasi_belajar_mata_pelajaran_ekonomi_siswa_kelas_vii_smpn_4_

03/22/2033

 

Elanie B. Johnson, Contextual Teaching

& Learning

http://www.goodreads.com/book/show/1950431.Contextual_Teaching_and_Learning

03/22/2033

 

Gugus, 1999/2000 Rumus Data

Kuantitatif dalam Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK 

http://ejournal.sunan-ampel.ac.id/index.php/JPI/article/download/182/167

03/22/2033

 

Hariyanto, S.Pd: Pengertian dan Tujuan

Pembelajaran

http://belajarpsikologi.com/pengertian-dan-tujuan-pembelajaran/

03/22/2013

 

Heru Setyawan: Pengertian Model

Pembelajaran dari Berbagai Tokoh Pendidikan

http://zonainfosemua.blogspot.com/2010/11/pengertian-model-pembelajaran-dari.html

03/22/2013

 

L.M Sartorelli

http://www.scribd.com/doc/55713933/Meningkatkan-Keterampilan-Berpikir-Kritis-Dan-Hasil-Belajar-Siswa-SMPN-I-Tambakromo-Kabupaten-Pati-Melalui-Pembelajaran-Matematika-Berbasis-Masalah

03/22/2033

 

M. Nasir, Model Penelitian,

http://ebookbrowse.com/pa/panduan-observasi

03/22/2033

 

Matthew B. Miles dan Michael

Huberman, Analisa Data Kualitatif,

http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/buku/detail/analisis-data-kualitatif-buku-sumber-tentang-metode-metode-baru-matthew-b-miles-dan-a-michael-huberman-penerjemah-tjetjep-rohendi-rohidi-30935.html

03/22/2033

 

Muhammad Taufik Amir, M. dalam

buku (Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning)

http://discus.web.id/inovasi-pendidikan-melalui-problem-based-learning-m-taufiq-amir.htm

03/22/2013

 

Nurhayati, Abbas. 2000. belajar dan

pembelajaran. Jakarta: Rineka cipta.

http://www.academia.edu/1208235/penerapan_model_pembelajaran_berbasis_masalah_problem_based_learning_alam_meningkatkan_kemampuan_berpikir_kritis_

03/21/2013

 

Oj:       Pengertian KKPI

http://kkpi-smk-ku.blogspot.com/2012/01/pengertian-kkpi_13.html

03/22/2033

 

PBL Model

http://esseacourses.strategies.org/PBLmodel.html

03/21/2013

PBL originated from a curriculum

reform by medical faculty at Case Western Reserve University in the late 1950s.

http://online.sfsu.edu/rpurser/revised/pages/problem.htm

03/21/2013

 

Problem-Based Learning

http://online.sfsu.edu/rpuser/revised/pages/problem.html

            03/21/2013

 

R. Swartz dan D.N. Perkins berpikir

kritis dalam Hassoubah (2004: 86)

http://diyah-pgsd.blogspot.com/2013/01/kemampuan-berpikir-kritis.html

03/21/2013

 

R.H Ennis, berpikir kritis dalam

Hassoubah (2004)

http://diyah-pgsd.blogspot.com/2013/01/kemampuan-berpikir-kritis.html

03/21/2013

 

Wina Sanjaya, Model Pembelajaran

Berorientasi Standar Proses Pendidikan

http://www.belbuk.com/strategi-pembelajaran-berorientasi-standar-proses-pendidikan-p-4667.html

033/22/2013

 

S. Nasution, Model Research

http://primurlib.net/show_detail/35405/metode-research-penelitian-ilmiah-s-nasution

03/22/2033

 

SMK Kristen 3 Tomohon

http://smkkristen3tomohon.blogspot.com/

03/22/2033

 

Sugiyono, 2011, hipotesis

http://kimiaardian.blogspot.com/2011/06/variabel-dan-hipotesis.html

03/22/2033

 

Trianto. 2007. Model Pembelajaran

Terpadu Dalam Teori Dan Praktek

http://www.belbuk.com/model-pembelajaran-terpadu-konsep-strategi-dan-implementasi-dalam-kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan-ktsp-p-11487.html

03/22/2033

 

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran

Berorientasi Standar Proses Pendidikan

http://www.belbuk.com/strategi-pembelajaran-berorientasi-standar-proses-pendidikan-p-4667.html

03/22/20


Dibaca: 2573 kali