Selasa, 26 Maret 2013 - 15:14:56 WITA

Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif STAD Untuk Meningkatkan Kualitas Belajar Produktif Otomotif Siswa Kelas X TKR SMK Negeri 3 Pal

 

Penulis : Jindan Gurinda

NIM : 08 311 852


Dibawah Bimbingan

(Drs. D. Makalew, MSi dan I. P. Tamba.,S.Pd.M,Kes)

Rendahnya hasil belajar siswa merupakan masalah dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Penggunaan model pembelajaran dan metode pembelajaran merupakan faktor utama dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan SMK 3 Palu.

Dalam mengatasi hal tersebut, peneliti menggunakan Model Kooperatif Student Team Achievement(STAD)dengan tujuan mengetahui peningkatkan hasil belajar siswa. Model Kooperatif Student Team Achievement (STAD) dapat membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah.. Peningkatan hasil belajar siswa  dapat dilihat dari capaian kemampuan

  1. Data hasil belajar siswa

Hasil belajar pada tes awal, nilai tertinggi 80, nilai terendah 20, nilai rata-rata kelas sebesar 59,22 sehingga daya serap secara individu  belum berhasil. Ketuntasan belajar klasikal sebesar 40,63 % belum mencapai tolok ukur keberhasilan yaitu sekurang-kurangnya 75% siswa memperoleh nilai  ≥ 70 (tuntas belajar).

Hasil belajar pada siklus I mengalami peningkatan dengan nilai tertinggi 100.00, nilai terendah 50.00, nilai rata-rata kelas 72,34 dan ketuntasan belajar secara klasikal 71,88%. Dengan demikian daya serap secara individu telah berhasil, namun ketuntasan belajar belum mencapai tolok ukur keberhasilan, yaitu 75% siswa mendapat nilai minimal 70 sesuai KKM, sehingga penelitian tindakan kelas pada siklus I belum menunjukkan indikator keberhasilan.

Hasil belajar pada siklus II mengalami peningkatan dengan nilai tertinggi 100, nilai terendah 65, nilai rata-rata kelas 85,47 dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 96,88%, sehingga penelitian tindakan kelas pada siklus II telah berhasil. Sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas ini sudah mencapai indikator keberhasilan.

  1. Data hasil observasi tingkat partisipasi dan keaktifan siswa dalam model pembelajaran kooperatif STAD

Terjadi peningkatan partisipasi dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran mulai tahapan tes awal sebelum diterapkan pembelajaran kooperatif STAD sampai dengan siklus I dan siklus II. Sebelum diterapkan pembelajaran kooperatif STAD jumlah siswa yang aktif dan sangat aktif sebanyak 15 siswa, 20 siswa pada siklus I dan 29 siswa pada siklus II.

  1. Data hasil tanggapan dan motivasi siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif STAD

Melalui lembar kuesioner tanggapan siswa, peneliti  setidaknya mengetahui sejauh mana ketertarikan siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini sebagai umpan balik dari proses pembelajaran.

Hasil tanggapan dan motivasi siswa meliputi 4 aspek jawaban yaitu kurang senang, biasa-biasa saja, senang, dan sangat senang. Pada tahapan tes awal ada 23 siswa menjawab senang/sangat senang, berlanjut ke siklus I ada 27 siswa dan 31 siswa pada siklus II. Uraian tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan motivasi siswa setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif STAD. Tingginya motivasi dan semangat siswa dalam belajar dapat meningkatkan  daya serap dan hasil belajarnya.

Kata kunci : PenggunaanModel Kooperatif STAD dan hasil belajar

 

 

PENDAHULUAN

Proses belajar mengajar merupakan bagian terpenting dalam lembaga pendidikan formal. Didalamnya harus ada subyek didik dan siswa yang belajar. Keberhasilan suatu pengajaran ditentukan oleh bagaimana proses itu berlangsung. Guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang efektif, inovatif, dan menyenangkan sedangkan siswa harus mempunyai semangat dan dorongan yang besar untuk belajar. Dalam proses belajar mengajar Produktif Otomotif, agar siswa dapat menguasai konsep-konsep Produktif Otomotif maka strategi belajar harus diarahkan pada keaktifan siswa.

Menurut Saptorini (2004) belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang berlangsung bersamaan. Belajar merupakan upaya yang dilakukan seseorang agar memperoleh “sesuatu”. Sedangkan mengajar adalah suatu kegiatan yang mengupayakan terjadinya proses belajar. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena latihan dan pengalaman yang terjadi bersifat relative tetap dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kecenderungan sikap guru yang memberikan pembelajaran Produktif Otomotif dengan ceramah, mengajak siswa untuk membaca bahan ajar, menghafal mengakibatkan siswa cenderung merasa bosan, jengkel, dan tidak adanya kemauan dalam benak siswa untuk mendalaminya

Berdasarkan informasi dari Guru Pamong pada saat KKN Tematik situasi hasil pengamatan peneliti selaku guru Produktif Otomotif pada saat KKN Tematik, di kelas X Teknik Kendaraan Ringan SMK 3 Palu  diketahui bahwa motivasi siswa untuk belajar Produktif Otomotif masih rendah. Hal tersebut berakibat pada rendahnya tingkat ketuntasan belajar siswa.

Menurut Handayanto (2000) konsep pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) adalah suatu konsep pembelajaran yang menekankan bagaimana memotivasi siswa dalam kelompok agar mereka dapat saling mendorong dan membantu satu sama lain dalam menguasai materi yang disajikan, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting, bermakna dan mennyenangkan. Model pembelajaran kooperatif STAD bekerja berdasarkan prinsip siswa bekerja bersama-sama untuk belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan dirinya sendiri.

 

KAJIAN PUSTAKA

Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Halubec (2003), model pembelajaran kooperatif yaitu suatu model pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif merupakan ide lama, pada awal abad pertama seorang filosof berpendapat bahwa untuk dapat belajar, seorang harus memiliki teman.

Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa pembelajaran kooperatif merupakan siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar individu maupun kelompok.

Menurut Slavin (2008), pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan prestasi terutama jika disediakan penghargaan tim atau kelompok dan tanggung jawab individual. Penghargaan atau pengakuan diberikan kepada kelompok sehingga anggota kelompok dapat memahami bahwa membantu orang lain adalah demi kepentingan mereka juga. Sedangkan tanggung jawab individual merupakan bentuk akuntabilitas individu di mana setiap orang memiliki kontribusi yang penting bagi tim atau kelompok.

 

Pembelajaran Kooperatif Stad(Student Team Achievement Divisions)

  1. 1.      Pengertian pembelajaran kooperatif tipe STAD

Menurut Ibrahim (2000) model Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah suatu pembelajaran  yang mengacu pada belajar  kelompok  siswa  menyajikan informasi dengan menggunakan presentasi verbal atau teks, dimana di dalamnya siswa  diberikan kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebayanya dalam bentuk  diskusi  kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan.

  1. 2.      `Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD

Dalam melaksanakan  pembelajaran kooperatif tipe STAD, ada beberapa tahap yang perlu diperhatikan berikut ini:

  1. Tahap persiapan pembelajaran

1)      Materi pembelajaran

Materi pembelajaran kooperatif dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara berkelompok. Sebelum menyajikan materi pelajaran dibuat terlebih dahulu lembar kegiatan siswa.

2)      Menetapkan tim/kelompok siswa

Kelompok-kelompok dalam pembelajaran kooperatif beranggotakan yang terdiri dari siswa yang sedang, tinggi, rendah prestasi belajarnya. Selain itu juga mempertimbangkan kriteria heterogenitas lainnya yakni: jenis kelamin, latar belakang sosial, suku/ras, dan sebagainya.

Berikut ini merupakan petujuk untuk menentukan kelompok kooperatif tipe STAD:

  1. Merangking siswa, maksudnya adalah merangking siswa berdasarkan prestasi akademiknya dikelas.
  2. Menentukan jumlah kelompok, setiap kelompok sebaiknya beranggotakan 4-6 orang.
  3. Membagi siswa dalam kelompok. Pembagian siswa dalam kelompok perlu diseimbangkan, sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan prestasi yang seimbang.

3)      Menentukan skor awal

Skor awal merupakan skor rata-rata siswa secara individual pada tes sebelumnya atau nilai akhir siswa secara individual pada catur wulan sebelumnya.

4)      Menyiapkan siswa untuk bekerja kooperatif dalam tim

Di dalam diskusi antar anggota, setiap anggota dalam tim saling membandingkan jawaban, memeriksa dan mengoreksi kesalahan konsep. Tekanannya pada anggota tim melakukan yang terbaik untuk timnya dan tim memberikan dukungan untuk meningkatkan kemampuan akademik anggotanya selama belajar. Tim juga memberikan perhatian dan memberikan perhatian dan penghargaan terhadap setiap anggota kelompok sehingga timbul rasa saling dihargai dan diterima oleh tim.    

  1. Tahap pembelajaran

Pada tahap ini guru memperkenalkan materi pelajaran. Dalam menyajikan materi pelajaran, hal-hal yang perlu ditekankan adalah sebagai berikut:

1)      Mengembangkan materi pelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok

2)      Pembelajaran kooperatif menekankan belajar adalah memahami makna, bukan hafalan.

3)      Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

4)      Memberi penjelasan mengapa jawaban tersebut benar atau salah.

5)      Beralih pada konsep lain, jika siswa telah memahami pokok masalahnya.

  1. Tahap kegiatan kelompok

1)      Sebelum kerja kelompok dengan pembelajaran kooperatif  dimulai, sebaiknya guru menjelaskan apa yang dimaksud bekerja dalam kelompok dan menetapkan peraturan dalam koperatif sebagai berikut:

a)      Siswa mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa teman kelompoknya telah mempelajari materi.

b)      Tidak seorangpun siswa selesai belajar sebelum semua anggota kelompok menguasai materi pelajaran.

c)      Meminta bantuan dari teman satu kelompok sebelum meminta bantuan kepada guru.

d)     Dalam satu kelompok harus saling berbicara sopan.

2)      Untuk kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa, disamping untuk mempelajari konsep-konsep materi pelajaran, LKS juga melatih keterampilan kooperatif siswa.

3)      Dalam kerja kelompok siswa mengerjakan tugas-tugas secara mandiri dan selanjutnya saling mencocokkan jawaban dengan teman sekelompokknya. Jika ada seorang siswa belum memahami materi, maka teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskannya. Sebelum bertanya kepada guru sebaiknya masalah dipecahkan dahulu dengan teman sekelompoknya.

4)      Dalam kegiatan kelompok guru bertindak sebagai  fasilitator yang memonitor kegiatan masing-masing kelompok.

  1. Tahap evaluasi

Evaluasi dikerjakan secara mandiri, siswa harus menunjukkan apa yang telah ia pelajari secara individu selama bekerja sama dalam kelompoknya, hasilnya akan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok.

  1. Tahap penghargaan kelompok

Dalam memberikan penghargaan kelompok, dilakukan dua tahap penghitungan. Penghitungan tersebut sebagai berikut:

1)      Menghitung skor individu dan skor kelompok

Dalam skor tes yang diperoleh siswa digunakan untuk menentukan perkembangan individu dan untuk menentukan skor kelompok.

2)      Menghargai prestasi kelompok

Dalam memberikan penghargaan terhadap prestasi kelompok, dengan tingkat penghargaan sebagai berikut:

-          Kelompok dengan rata-rata skor 15 sebagai kelompok baik (good team).

-          Kelompok yang memperoleh rata-rata skor 20 sebagai hebat (great team).

-          Kelompok yang memperoleh rata-rata skor 25 sebagai kelompok super (super team)

 

METODOLOGI PENELITIEN

Setting Penelitian

Lokasi Penelitian       :    Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK NEGERI 3 PALUyang berlokasi Kota Palu.

Waktu penelitian       :    Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 sampai Februari 2011 semester genap tahun pelajaran 2010/2011.

Subjek Penelitian       :    Siswa kelas X Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan dengan jumlah 32 siswa.

 

 

RENCANA TINDAKAN PENELITIAN

Waktu yang digunakan dalam penelitian adalah selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Oktober 2010 s.d Februari 2011, semester ganap tahun pelajaran 2010/2011. Kegiatan pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam beberapa tahap, yaitu:

  1. Tahap perencanaan (membuat jadwal dan rencana pembelajaran).
  2. Tahap pelaksanaan (melakukan pengamatan/observasi, mengisi checklist, pengambilan gambar/dokumentasi dan membuat catatan kecil).
    1. Tahap identifikasi data yang diperoleh sesuai dengan permasalahan.
    2. Peneliti an laporan.

 

TEKNIK DAN INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

  1. 1.      Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan tes/quis, observasi, kuesioner, dan dokumentasi.

  1. Tes digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar siswa.
  2. Observasi digunakan untuk mendapatkan data partisipasi dan keaktifan siswa dalam pembelajaran kooperatif  STAD.
  3. Kuesioner digunakan untuk mendapatkan data tentang tanggapan dan motivasi siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif  STAD.
  4. Dokumentasi digunakan untuk mendapatkan gambar suasana pembelajaran kooperatif  STAD menggunakan kamera.
  5. 2.      Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi lembar soal tes/quis, lembar observasi, lembar kuesioner dan camera.

  1. Lembar soal tes/quis menggunakan butir soal untuk mengukur ketuntasan belajar siswa
  2. Lembar observasi menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat partisipasi dan keaktifan siswa dalam pembelajaran kooperatif STAD.
  3. Lembar kuesioner menggunakan kuesioner untuk mengukur prosentase tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif STAD.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN

  1. a.      Perencanaan

Pembelajaran pada siklus I ini diawali dengan kegiatan perencanaan, dimana guru harus menyiapkan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan yaitu  bahan ajar, RPP sesuai pendekatan kooperatif STAD, lembar tugas kelompok, kuis/soal test, lembar observasi, dan lembar quesioner. Kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan tindakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu:

-          Siswa dapat menyebutkan pengertian keselamatan kerja berdasarkan UU K3

-          Siswa dapat menyebutkan penanganan pelaksanaan prosedur K3

-          Siswa dapat menuliskan aspek-aspek keamanan kerja

-          Siswa dapat menuliskan penanganan kontaminasi dan bahaya yang ditimbulkan di tempat kerja

-          Siswa dapat menyebutkan identifikasi kebakaran dan pananganan kebakaran di tempat kerja

-          Siswa melakukan pengangkatan/pemindahan material secara manual

-          Siswa dapat menerapkan konsep dan prosedur K3 disetiap aktifitas kerja.

  1. Guru menjelaskan model pembelajaran kooperatif STAD.
  2. Guru membagi siswa kelas dalam  kelompok heterogen tiap kelompok terdiri dari 4 siswa.
  3. Guru menjelaskan konsep “Menerapkan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan tempat kerja”

(materi terlampir)

Sebelum menutup pelajararan guru menginformasikan bahwa topik pada pertemuan berikutnya adalah diskusi kelompok dilanjutkan dengan persentasi dari masing-masing kelompok

  1. Guru memberi tugas kelompok untuk didiskusikan. Tiap kelompok diberi waktu 30 menit untuk menyelesaikannya. Guru membagikan lembar tugas kepada masing-masing kelompok. Tiap kelompok mendapat tugas untuk menuliskan 5 contoh bahaya kecelakaan kerja, 5 contoh klasifikasi kebakaran di tempat kerja, dan 5 contoh kerugian bagi perusahaan akibat kecelakaan kerja. Guru dan kolaborator berkeliling mengamati dan mengarahkan jalannya diskusi di masing-masing kelompok.
  2. Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya masing-masing 5 menit. Guru dan kolaborator mengamati jalannya diskusi antar kelompok sambil mengarahkan pada pemahaman konsep “Menerapkan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan tempat kerja”. Jam pelajaran berakhir, diberitahukan kepada siswa bahwa pada pertemuan berikutnya akan diadakan tes secara individual.
  3. Pada pertemuan lanjutan diadakan tes secara individual dengan durasi 30 menit pada jam pertama. Guru dan kolaborator mengawasi jalannya tes. Hasil tes siklus I tercantum pada tabel 4.1. Ada 5 siswa yang mendapat nilai tertinggi 80, 3 Siswa yang memperoleh nilai terendah 20.
  4. Tahapan berikutnya adalah observasi. Selama proses pembelajaran guru didampingi kolaborator yang bertugas melakukan observasi dan pengamatan terhadap ketrampilan kooperatif yang dilatihkan kepada siswa dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Guru memeriksa hasil tes/kuis/tugas kelompok dan hasil tes individual. Kolaborator mengamati partisipasi keaktifan siswa dan membagikan lembar kuesioner tanggapan dan motivasi siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif  STAD.

Pada siklus I ada 8 siswa yang belum tuntas belajar, berkurang dibandingkan pada tahap tes awal yang berjumlah 19 siswa. Sedangkan nilai rata-rata pada tes awal 59,22 naik menjadi 72,34 pada siklus pertama dengan keberhasilan KBM 71,88%, namun belum dapat dikatakan kegiatan belajar mengajar belum berhasil karena belum mencapai 75%. Tingkat partisipasi dan keaktifan siswa meningkat, ada 2 siswa yang cenderung kurang aktif dalam proses pembelajaran. Setelah diselidiki seorang siswa jarang masuk, seorang lagi sakit dan mengalami patah tulang tangan karena kecelakaan.  Tanggapan dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran, masih ada 5 siswa yang cenderung kurang antusias dan biasa-biasa saja dalam menanggapi proses pembelajaran. Kekurangan guru dalam pembelajaran siklus I ini adalah tidak dapat menjangkau pembimbingan terhadap keseluruhan siswa terutama dalam  mengerjakan soal-soal yang dilatihkan. Disamping itu guru belum bisa optimal dalam mengelola dan mengatur waktu pembelajaran.

  1. b.      Pelaksanaan tindakan
    1. Guru  menyampaikan  tujuan pembelajaran.
    2. Guru menginformasikan model pembelajaran.
    3. Guru membagi siswa kelas dalam  kelompok heterogen tiap kelompok terdiri dari 4 siswa
    4. Guru menjelaskan tentang konsep reaksi penggaraman asam basa.
    5. Siswa berdiskusi dalam  kelompok sesuai dengan tugas yang sudah diberikan.
    6. Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok.
    7. Guru mengarahkan siswa untuk membuat pemahaman konsep yang benar.
    8. Guru memberikan soal test/soal kuis untuk mengetahui penguasaan konsep yang dipelajari secara individual.
    9. Guru memberi penghargaan kepada individu atau kelompok yang memperoleh skor atau nilai tertinggi.
    10. c.       Observasi
      1. Selama tahap pelaksanaan tindakan guru didampingi teman sejawat sebagai kolaborator yang bertugas melakukan observasi terhadap ketrampilan kooperatif yang dilatihkan kepada siswa dengan menggunakan  lembar observasi yang telah disiapkan.
      2. Guru memeriksa hasil tes/kuis/tugas kelompok dan hasil tes individual.
      3. Guru pendamping sebagai kolaborator membagikan lembar kuesioner tanggapan dan motivasi siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif  STAD.
      4. d.      Refleksi 
        1. Guru dan kolaborator menganalisis hasil observasi tentang ketrampilan kooperatif siswa, hasil tugas kelompok dan nilai individual.
        2. Guru dan kolaborator mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan terhadap jalannya proses pembelajaran siklus pertama.
        3. Guru merencanakan proses perbaikan pada siklus kedua.
        4. 3.      Siklus Kedua

Pada siklus kedua dilakukan tahapan-tahapan seperti pada siklus pertama tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus pertama, sehingga kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus pertama tidak terjadi pada siklus kedua. Pada pembelajaran siklus II pokok bahasan “Menerapkan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan tempat kerja”, guru dan siswa sepakat tentang pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Melalui kegiatan ini siswa dapat lebih memahami prinsip-prinsip K3. Dengan kondisi pembelajaran yang demikian dapat tercipta suasana kelas yang menyenangkan sehingga siswa dapat belajar dengan baik. Proses pembelajarannya dapat berlangsung santai tetapi serius.

Perbaikan-perbaikan dari hasil refleksi pada siklus I yang diterapkan pada siklus II berhasil. Hal ini dapat diketahui dari proses pembelajaran yang berjalan lancar dan hasil belajar kognitif siswa meningkat. Hasil tes siklus II menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I . Nilai rata-rata siswa siklus II mencapai 85,47 dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 96,88%. Hasil tersebut sudah mencapai tolok ukur keberhasilan. Data monitoring guru memperoleh niai 80,9 dengan kriteria baik, hal ini terjadi karena guru memperhatikan saran dari kolaborator atau guru mitra, seperti menyiapkan alat, bahan ajar atau media pembelajaran, membimbing siswa dalam menyelesaikan soal-saoal, pengelolaan waktu yang sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan.

 

KESIMPULANDAN SARAN

 

KESIMPULAN

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan tentang strategi belajar kelompok dalam meningkatkan hasil belajar Produktif Otomotif Standar Kompetensi “Menerapkan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan tempat kerja” siswa kelas X TKR SMK NEGERI 3 PALU maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Strategi belajar kelompok dengan membagi siswa kelas X TKR menjadi delapan kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 siswa dan memadukan kemampuan siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai dalam satu kelompok belajar akan membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi belajar kelompok dalam belajar Produktif Otomotif lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan sistem belajar secara individu.
  2. Belajar kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar Produktif Otomotif pada siswa kelas X TKR SMK NEGERI 3 PALU semakin kontinu belajar kelompok dilaksanakan, maka semakin meningkat hasil belajar Produktif Otomotif yang dicapai oleh siswa kelas X TKR.
  3. Belajar kelompok memberikan kontribusi positif terhadap perubahan perilaku dan hasil belajar Produktif Otomotif siswa kelas X TKR. Perubahan perilaku yang disebabkan oleh kegiatan belajar kelompok, yaitu : (1) siswa lebih kreatif, (2) siswa lebih bertanggung jawab, (3) siswa lebih percaya diri, dan (4) motivasi belajar meningkat. Sedangkan kontribusi belajar kelompok terhadap hasil belajar Produktif Otomotif  ditunjukkan melalui: (1) kemampuan siswa meningkat dalam mengerjakan soal tentang “Menerapkan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan tempat kerja”, (2) perubahan sikap mental dengan berani bertanya terhadap kesulitan belajar, (3) siswa  berani mengutarakan ide, gagasan dalam belajar, dan (4) mengedepankan pola musyawarah dalam membahas suatu permasalahan

SARAN

Dengan penelitian ini diharapkan agar para guru khususnya guru kelas yang mengajarkan Produktif Otomotif dapat menerapkan strategi belajar kelompok dalam upaya meningkatkan hasil belajar Produktif Otomotif. Disarankan agar sistem belajar kelompok dapat dikembangkan dalam pelajaran yang lain, sehingga  dapat bermanfaat bagi siswa dalam meningkatkan hasil belajarnya.

Dengan temuan penelitian ini diharapkan para guru dapat menyelami dan memahami kesulitan belajar yang dialami oleh siswanya terutama dalam belajar Produktif Otomotif, kemudian dilakukan pemecahan  melalui  belajar kelompok  dengan memfokuskan pada kesulitan utama yang dialami oleh siswa.

Disarankan kepada semua pihak termasuk guru (sekolah), orang tua, siswa dan masyarakat untuk saling bekerjasama dalam melancarkan kegiatan belajar kelompok dalam upaya meningkatkan hasil belajar anak. Diharapkan sistem belajar kelompok ini dapat dilaksanakan pada semua kelas dan semua mata pelajaran.

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

Depdiknas. 2000, Penilaian dan Pengujian Untuk Guru SMK, DEPDIKNAS, Jakarta.

 

Dimyati dan Mudjiono, 1999, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta ; PT. Rineka Cipta

 

Hamalik, Oemar, 1989, Metode Pengajaran Ilmu Pendidikan, Mandar Maju, Bandung.

 

Hamalik,  Oemar.  1983. Metode Belajar Dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.

 

______2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

 

Ibrahim.2009. Dasar-daasar belajar dan pembelajaran. Alfabeta. Bandung.

 

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2003, tentang UndangUndang Sisdiknas, Jakarta; Depdikbud republik Indonesia.

 

Mantra, LB. 1998. Langkah-Langkah Penelitian Survei dan Laporan Penelitian. Yogyakarta : BPFG - UGM.

 

Miles, M.B. & Hubermen, A.M. 1984. Analisis Data Qualitatif. Terjemahan   oleh   Tjetjep   Rohendi   Rohidi.    Universitas Indonesia. Jakarta.

 

Moleong, L. J.  1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

 

______2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

 

Mappa, Syamsu,1987,Dasar-dasar Penelititan Sosial dan Kependidikan, FIP IKIP, Bandung

 

Margono, S. 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta; PT. Rineka Cipta

 

Nana Sudjana,1991, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar,Sinar Baru, Bandung

 

Nasution, S.  1987. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta : PT. Bina Aksara.

 

______1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Penerbit Tarsito.

 

Nur, Mohamad. 1987. Pengantar Teori Tes. Jakarta: P2LPTK.

 

Pasaribu dan Simanjuntak, 1989, Proses Belajar Mengajar, Tarsito, Bandung.

 

Sukirin. 1984. Psikologi Belajar. Yogyakarta : FIP - IKIP Yogyakarta.

 

Surakhmad, 1978, Metodologi Pengajaran Nasional, Djemars, Bandung.

 

Suyanto. Kasihani K.E, 2008,  Model-model Pembelajaran, Malang; Universitas Negeri Malang

 

Trianto. 2011. Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Prestasi Pustakaraya.

 

Winarno, S. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.

 

Winkel.   1984.  Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

 

Zuriah, N. 2003. Penelitian Tindakan dalam Bidang Pendidikan dan Sosial. Edisi Pertama. Malang : Bayu Media Publishing.

 

...................,1984, Teori Pengajaran Produktif, Depdikbud, Jakarta.

 

…………..., 2008. Keputusan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Nomor: 251/C/KEP/MN/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan. Depdiknas. Jakarta.

 

…………..., 2008. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Spektrum SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.


Dibaca: 2891 kali